oleh

Bagikan Paket Sembako Politisi, Kepala BKPSDM Palopo Disorot DPRD

PALOPO, TEKAPE.co – Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Palopo, Baharman Supri menyoroti aktifitas Kepala BKSDM Palopo, Farid Kasim Judas (FKJ).

Sorotan itu muncul setelah FKJ, putra Walikota Palopo itu, ikut membagikan paket sembako bantuan Ketua Nasdem Sulsel, Rusdi Masse (RMS), lengkap dengan label partai.

FKJ, dengan seragam ASN, turun aktif membagikan paket sembako bantuan RMS, yang merupakan anggota DPR RI Fraksi Nasdem, ke masyarakat Palopo.

Melihat hal itu, Baharman Supri, yang juga Ketua KAHMI Palopo, bereaksi.

Dalam keterangan tertulisnya, yang diterima Tekape.co, Selasa 12 Mei 2020, Baharman meminta FKJ, selaku pejabat eselon 2, agar memberi keteladanan kepada masyarakat, dalam menjalankan etika pemerintahan dan etika publik, atas keterlibatan dirinya membagi sembako politisi di Palopo.

FKJ di tengah ibu-ibu penerima paket sembako bantuan RMS. (ft: medsos)

Menurut legislator Golkar Palopo ini, ada dua hal yang tidak boleh dilakukan ASN, karena menjadi sorotan publik dan menjadi diskursus di masyarakat.

Pertama, kehadirannya sebagai pejabat Kepala BKSDM berseragam ASN ikut membagi sembako.

“Padahal, dia sendiri tau, kalau praktek seperti itu melanggar aturan ASN, apalagi orang tuanya sebagai Walikota, di setiap pidatonya, selalu berpesan agar dalam bekerja, selalu berdasarkan hukum atau peraturan yang ada,” tandasnya.

Kedua, di saat masyarakat dilarang berkumpul, justru cara membaginya mengumpulkan masyarakat secara massal untuk dibagikan sembako.

“Mungkin butuh pencitran, tapi lagi-lagi bertentangan dengan surat edaran Kapolri. Jadi dengan model seperti inilah, yang dikhawatirkan banyak panganut teori demokrasi, pejuang demokrasi, tidak sedikit orang mau mencapai kekuasaan, menghalalkan segala cara,” ujarnya.

Ketika ditanya apakan Dewan akan melaporkan ke lembaga yang berwenang, Baharman Supri menjawab, percuma saja saat ini. Sebab kepercayaan terhadap lembaga pemerintah sangat rendah.

“Cukuplah saya dengan kekuatan legislatif, supaya masyarakat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Saya setuju banyak orang berdonasi di tengah sulitnya ekonomi masyarakat, tapi kesetiaan kepada aturan dan etika moral kita sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab. Inilah yang saya sebut niatnya baik, tujuannya baik, tapi caranya yang keliru,” ungkapnya.

Baharman berpesan, tetaplah di jalan yang benar, yaitu niatnya baik, caranya benar, tujuanya tercapai. Indonesia yang adil dan makmur. (*)

Komentar

Berita Terkait