MDA dan UNCP Perkuat Desa Tangguh Bencana di Latimojong
LUWU, TEKAPE.co – PT Masmindo Dwi Area (MDA) bersama Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana melalui kegiatan Sosialisasi dan Inisiasi Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di Desa Boneposi, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan Forum Desa (FORDES) MATAPPA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Program ini menjadi bagian dari pilar Jaga Keselamatan Desa dalam Program Jaga Desa yang diresmikan Bupati Luwu, Patahudding, pada 5 Juni 2026.
Penguatan DESTANA dilakukan sebagai tindak lanjut atas aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui FORDES MATAPPA, khususnya terkait kebutuhan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di wilayah Latimojong yang memiliki tingkat kerawanan tertentu.
Dalam kegiatan tersebut, tim Pusat Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo memaparkan hasil penelitian dan pemetaan titik rawan bencana di Desa Boneposi.
Selain itu, tim juga memperkenalkan sistem informasi geospasial berbasis web (WebGIS) yang dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi sekaligus pendukung upaya mitigasi bencana di tingkat desa. Program ini merupakan tahap awal dari rangkaian penguatan Desa Tangguh Bencana di Boneposi.
Tahapan selanjutnya akan difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan DESTANA melalui pelatihan kesiapsiagaan, penyusunan langkah mitigasi, simulasi kebencanaan, hingga uji fungsi DESTANA guna memastikan kesiapan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana.
“Kami melihat kesiapsiagaan bencana sebagai kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat Latimojong. Karena itu, melalui Program Jaga Desa, khususnya pilar Jaga Keselamatan Desa, kami bersama Pemerintah Kabupaten Luwu, FORDES, dan Universitas Cokroaminoto Palopo berupaya memastikan masyarakat memiliki kapasitas yang lebih baik untuk mengenali risiko, melakukan mitigasi, dan merespons situasi darurat secara tepat,” ujar Mustafa.
“Bagi kami, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui FORDES tidak berhenti sebagai masukan, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi desa,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Dr. Ichwan Muis, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghubungkan hasil penelitian dan pengabdian perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Sebagai perguruan tinggi, kami ingin memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Melalui kegiatan ini, hasil pemetaan risiko bencana dikembalikan kepada masyarakat untuk dipahami, diverifikasi, dan dimanfaatkan sebagai dasar penguatan kesiapsiagaan desa. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, MDA, dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana,” jelas Dr. Ichwan.
Kepala Desa Boneposi, M. Hamka, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap program penguatan DESTANA dapat berlanjut melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara aktif.
“Kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat mengenai potensi risiko bencana di desa kami. Harapan kami, program ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi terus berlanjut melalui pelatihan, simulasi, dan penguatan kelembagaan DESTANA sehingga masyarakat semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi,” ujarnya.
Sebelumnya, program penguatan DESTANA telah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan Ulusalu pada 2025. Pada tahun 2026, kegiatan dilanjutkan di Desa Boneposi dan dalam waktu dekat akan diperluas ke sejumlah desa lain di Kecamatan Latimojong berdasarkan hasil pemetaan risiko dan survei lapangan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan kelembagaan Desa Tangguh Bencana di wilayah Latimojong guna menciptakan komunitas yang lebih siap, tangguh, dan responsif terhadap ancaman bencana. (*)





Tinggalkan Balasan