Tekape.co

Jendela Informasi Kita

UNCP Dorong Pelestarian Bahasa Limola Lewat Teknologi Virtual Reality

Tim peneliti Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) usai menggelar FGD revitalisasi Bahasa Limola berbasis teknologi Virtual Reality (VR) di Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Selasa (12/5/2026). (Dok: UNCP)

PALOPO, TEKAPE.co – Tim peneliti dari Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema revitalisasi Bahasa Limola berbasis teknologi Virtual Reality (VR) di Desa Sassa, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah di tengah perkembangan teknologi dan arus digitalisasi yang semakin cepat.

Dalam forum itu, masyarakat dan tokoh adat dilibatkan untuk membahas strategi menjaga keberlangsungan Bahasa Limola sebagai identitas budaya masyarakat setempat.

Penelitian tersebut merupakan bagian dari skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Riset itu dipimpin oleh Dr. M. Nur Hakim bersama Wahyu Hidayat dan Fitrah Al Anshori, dengan dukungan dosen serta mahasiswa UNCP.

Program penelitian kini memasuki tahun kedua. Pada tahap sebelumnya, tim peneliti telah menghasilkan sejumlah inovasi digital, termasuk kamus online Bahasa Limola dan beberapa perangkat pembelajaran berbasis teknologi untuk mendukung dokumentasi bahasa daerah.

Dalam diskusi yang berlangsung di Desa Sassa, warga dan tokoh adat menyampaikan pengalaman serta pandangan mereka mengenai pentingnya mempertahankan Bahasa Limola di tengah perubahan sosial dan budaya.

Ketua tim peneliti, Dr. M. Nur Hakim, mengatakan pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

“Pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya melalui dokumentasi, tetapi juga harus dikemas melalui inovasi teknologi agar lebih dekat dengan generasi muda dan tetap relevan di masa depan,” ujarnya.

Selain FGD, tim peneliti juga mengunjungi SD Negeri 031 Sassa untuk memperkenalkan media pembelajaran berbasis VR kepada siswa.

Melalui perangkat tersebut, siswa diajak mengenal Bahasa Limola secara interaktif sehingga proses belajar dinilai lebih menarik dan mudah dipahami.

Menurut Nur Hakim, pendekatan teknologi seperti VR diharapkan mampu menjadi jembatan antara warisan budaya lokal dengan perkembangan dunia digital.

Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat adat, sekolah, dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi model pelestarian budaya lokal berbasis teknologi yang dapat diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini