Tekape.co

Jendela Informasi Kita

UNCP Gelar Workshop Anti Bullying, Tekankan Peran Guru Ciptakan Sekolah Aman

Rektor Universitas Cokroaminoto Palopo, Dr. Sri Hastuty Saruman, S.E., M.Pd., saat membuka Workshop Anti Bullying bagi mahasiswa PPG FKIP UNCP di Aula H Kampus 2 UNCP, Sabtu (9/5/2026). (Dok: UNCP)

PALOPO, TEKAPE.co – Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menggelar Workshop Anti Bullying di Aula H Kampus 2 UNCP, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa PPG sebagai bagian dari pembekalan calon guru profesional agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik.

Ketua panitia kegiatan, Dr. M. Nur Hakim, M.Pd mengatakan, workshop tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terkait pencegahan dan penanganan perundungan di lingkungan sekolah, khususnya pada jenjang sekolah dasar.

Wahyu Hidayat, S.IP., M.H., dari SATGAS PPKS Universitas Cokroaminoto Palopo saat menyampaikan materi pada Workshop Anti Bullying di Aula H Kampus 2 UNCP, Sabtu (9/5/2026).

“Kegiatan ini sudah direncanakan untuk membekali adik-adik mahasiswa pengetahuan dalam penanganan anti bullying, karena di sekolah dasar tidak ada guru BK, sehingga guru kelas memiliki peran penting dalam mendeteksi dan menangani kasus perundungan,” ujar Nur Hakim.

Menurut dia, guru kelas memiliki posisi strategis dalam mengenali gejala bullying sejak dini sekaligus memberikan penanganan yang tepat di sekolah.

Workshop secara resmi dibuka oleh Rektor UNCP, Dr. Sri Hastuty Saruman, S.E., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kemampuan guru saat ini tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari kapasitas menciptakan ruang belajar yang inklusif dan bebas intimidasi.

Rektor, narasumber, dosen, dan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Universitas Cokroaminoto Palopo berfoto bersama usai pelaksanaan Workshop Anti Bullying di Aula H Kampus 2 UNCP, Sabtu (9/5/2026).

“Guru adalah garda terdepan. Profesionalisme seorang guru saat ini tidak hanya diukur dari kemampuan mentransfer ilmu akademis saja, tetapi juga dari kompetensinya dalam menciptakan ruang kelas yang inklusif, aman, dan bebas dari intimidasi,” kata Sri Hastuty.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini