oleh

Tiga Legislator Luwu Desak Gubernur Segera Benahi Jl Poros Walmas-Toraja

PALOPO, TEKAPE.co – Pasca Jl Poros Palopo-Toraja terputus, kini jalan poros yang menghubungkan wilayah Walenrang Barat (Walbar) dan Toraja Utara (Torut) menjadi jalur alternatif.

Untuk itu, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, diminta untuk segera membenahi jalur alternatif tersebut.

Desakan itu disampaikan tiga legislator DPRD Luwu asal Walenrang-Lamasi (Walmas), didampingi tokoh masyarakat Walmas.

Ketiga legislator itu adalah Ruddin dari Fraksi Partai Golkar, Hamid Tara dari Fraksi PKS, dan Rivaldi Eka Putra Fraksi Partai Demokrat, dan didampingi tokoh masyarakat Walmas, Listan.

Ruddin mengungkapkan, jalur poros yang menghubungkan Walmas dan Toraja Utara itu selama ini sudah menjadi jalur utama bagi warga di kedua wilayah tersebut.

Bagi kedua warga, baik warga Walmas maupun warga Toraja Utara, menjadikan jalan ini sebagai sarana dalam memperlancar arus ekonomi kedua daerah.

“Jalan ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat di kedua wilayah tersebut,” ungkap Ruddin.

Bahkan sekarang, sejak longsor Battang Barat terjadi dan memutus jalan poros Palopo-Toraja, maka jalur Walmas-Toraja Utara inilah yang menjadi jalur alternatif bagi warga yang hendak menuju ke Toraja.

“Kira-kira setengah jam dari Batusitanduk ke Walbar. Jika aksesnya sudah dibeton,” sebut Ruddin.

Ia mengatakan, dari Walbar ke Torut, jaraknya sudah dekat, hanya 13 km. Karena hanya separuh saja jalan yang di beton, sehingga butuh kira-kira setengah jam untuk sampai ke Torut.

“Jika dikalkulasi dari Batusitanduk ke Torut, hanya 25 km. Butuh satu jam lebih untuk sampai kesana (Torut),” terangnya.

Dari Batusitanduk ke Walbar, tambah Ruddin, hanya satu jalur dan itu sudah masuk jalur provinsi.

Dari Kecamatan Walbar ke Torut, pengendara masih melewati dua desa, yakni Paranta dan Lamasi Hulu. Hanya separuh saja aksesnya dibeton.

“Lamasi Hulu yang berbatasan langsung antara Walbar dan Torut. Dan jalan yang di beton hanya sekitar 10 km dari batas Torut ke Lamasi Hulu,” pungkasnya.

Ia berharap ruas jalan Batusitanduk Luwu-Toraja Utara harus juga menjadi prioritas utama Gubernur Sulsel.

”Gubernur Sulsel harus berlaku adil dalam menganggarkan ruas jalan provinsi sejak longsor terjadi di Kota Palopo Jumat 26 Juni 2020,” tandasnya.

Gubernur sudah seharusnya membuka akses antara Walmas dan Toraja Utara untuk lebih baik, dengan membenahi jalan poros tersebut.

Panjang jalur tersebut sebut Rivaldi hanya sekitar 25 kilometer saja. Jalan masuk dari Walmas sudah diaspal beberapa waktu lalu, sementara pihak Pemkab Toraja Utara juga sudah memperbaiki potos tersebut melalui pintu masuk dari Toraja Utara.

“Ini berarti bahwa perbaikan jalan tersebut tidak lagi membutuhkan pembebasan lahan, tetapi hanya melakukan pengaspalan dan pelebaran jalan saja,” ujar Rivaldi.

Selain itu, dasar jalan ini sudah sangat baik karena sudah sejak lama menjadi penghubung bagi Walmas dan Toraja Utara.

Hanya saja timpal Rivaldi, jalan sangat membutuhkan pembenahan terutama pada pelebaran dan pengaspalan jalan.

”Kalau soal kondisi jalan, sangat bagus. Dan sekarang ini sangat memungkinkan untuk dilakukan pelebaran dan pengaspalan jalan,” komentar Rivaldi.

Untuk itu lanjut Rivaldi, pihaknya meminta kepada Pemprov Sulsel untuk memberi perhatian kepada warga sekitar perbatasan dengan melakukan pengaspalan jalan poros yang menghubungkan Walmas dengan Toraja Utara,” tandasnya.

Sebagai urat nadi perekonomian masyarakat Walmas dan Toraja Utara, menurut Listan, Pemprov sudah seharusnya memberi perhatian untuk melakukan pengaspalan jalan tersebut.

“Jalan ini sudah dijadikan jalur perdagangan bagi warga Walmas dan Toraja Utara selama ini,” tandas Listan.

Ia menambahkan, jarak tempuh antara Walmas ke Toraja Utara sekarang ini hanya sekitar satu jam saja.

Artinya, bila jalan ini diaspal, maka sudah pasti jarak tempuhnya akan semakin singkat.

“Dan ini akan berdampak bagi perkembangan ekonomi masyarakat sepanjang jalur itu,” terang Listan lagi.

Bukan tidak mungkin lanjut Listan, jalur ini akan menjadi jalur utama yang digunakan warga dari utara Luwu, yang hendak menuju ke Toraja.

“Itu artinya mempersingkat jarak tempuh dengan tidak lagi masuk Kota Palopo,” ujar Listan lagi. (rilis)

Komentar

Berita Terkait