Jalan Uempana-Salubiro Mulai Terbuka, Camat Bungku Utara Ungkap Progres Perbaikan Pascabencana Longsor
MORUT, TEKAPE.co – Akses jalan yang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mulai kembali bisa dilalui warga.
Jalur tersebut sebelumnya mengalami kerusakan akibat bencana longsor yang sempat menghambat mobilitas masyarakat selama lebih dari sepekan.
Perbaikan jalan dilakukan secara bertahap sejak 8 Agustus 2026 dengan mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor dan membuka badan jalan yang tertutup.
Camat Bungku Utara, Asgar Lawahe, mengatakan penanganan terus dilakukan setelah Bupati Morowali Utara, Dr. dr. Delis Julkarson Hehi, MARS, meninjau langsung lokasi terdampak pada Jumat (7/8/2026).
Menurut Asgar, sejumlah titik yang sebelumnya sulit dilalui kini sudah mulai terbuka. Kondisi itu membuat aktivitas warga perlahan kembali berjalan.
“Atas nama masyarakat Desa Salubiro, Lemowalia, Karawasa, dan Uempanapa, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Morowali Utara, Ibu Senator, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta seluruh pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan dalam penanganan dampak longsor. Saat ini akses masyarakat sudah mulai kembali lancar dan aktivitas ekonomi perlahan kembali berjalan,” kata Asgar, Kamis (20/8/2026).
Ia menyebut sejumlah lokasi menjadi prioritas dalam pekerjaan tersebut.
Titik-titik itu berada di wilayah Karawasa, Sawuya, Takanutu, Wata, Uemadale, Puncak Salubiro, hingga jalur turunan yang mengarah ke permukiman warga Salubiro.
Untuk mempercepat pekerjaan, dua alat berat berupa excavator dan bulldozer dikerahkan.
Peralatan tersebut disediakan PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS), termasuk dukungan bahan bakar minyak (BBM) untuk menunjang operasional alat berat di lapangan.
Pekerjaan kini telah mencapai kawasan Puncak Salubiro. Penanganan masih akan dilanjutkan hingga jalur menuju permukiman warga benar-benar dapat dilalui secara normal.
Mulai terbukanya akses jalan juga memberi dampak langsung terhadap aktivitas warga.
Masyarakat kembali menggunakan jalur tersebut untuk mengangkut hasil alam, di antaranya damar dan kemiri.
Selain itu, distribusi kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya terkendala akibat kondisi jalan juga mulai kembali berjalan.
Meski demikian, proses pemulihan akses belum sepenuhnya tanpa hambatan.
Asgar mengatakan pekerjaan di lapangan masih dipengaruhi kondisi cuaca. Selain itu, adanya hari libur operasional dan keterbatasan BBM membuat pengerjaan beberapa kali harus dihentikan sementara.
Longsor yang menjadi penyebab kerusakan akses tersebut terjadi pada Juli 2026.
Dampaknya dirasakan warga Desa Salubiro, Lemowalia, Karawasa, dan Uempanapa karena jalur penghubung antardesa mengalami gangguan serius.
Kondisi itu tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpengaruh terhadap distribusi kebutuhan pokok ke sejumlah wilayah yang terdampak.
Pemerintah Kabupaten Morowali Utara kemudian melakukan penanganan darurat dengan melibatkan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan akses.
Sejumlah perusahaan turut memberikan dukungan dalam proses tersebut, di antaranya PT Indo Mineral Mining dan PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS).
Bagi Asgar, keterlibatan pemerintah, perusahaan, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan setelah bencana.
“Gotong royong dan kolaborasi semua pihak menjadi kunci. Kami optimistis akses jalan hingga ke perkampungan dapat segera pulih sepenuhnya sehingga aktivitas masyarakat kembali normal,” ujarnya.
(Int_ MCDD /Ryo/LNY)





Tinggalkan Balasan