Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Istana Benua Raja Aceh Tamiang Dibangun 1928, Mahasiswa Universitas Samudra Telusuri Jejak Kerajaan

ACEH, TEKAPE.co – Istana Benua Raja di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, menyimpan jejak sejarah Kerajaan Benua Tunu yang masih dapat ditelusuri hingga kini.

Bangunan yang berdiri sejak 1928 itu menjadi salah satu peninggalan sejarah yang merekam kehidupan kerajaan, mulai dari kepemimpinan raja hingga pelaksanaan musyawarah adat.

Sejarah istana tersebut ditelusuri Kelompok 05 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Samudra Angkatan 2025 melalui observasi dan wawancara langsung, Kamis (15/10/2026).

Dalam kegiatan untuk memenuhi tugas mata kuliah Media Pembelajaran tersebut, mahasiswa menggali informasi dari Tengku Irwansyah, cucu dari anak pertama Tengku Raja Sulung, dan Sulasmi, istri Tengku Irwansyah.

Berdasarkan keterangan narasumber, Istana Benua Raja dibangun oleh Sultan Badelisah atau yang dikenal sebagai Tengku Raja Sulung. Ia merupakan raja terakhir Kerajaan Benua Tunu.

Pada masa kerajaan, bangunan ini tidak hanya menjadi tempat tinggal raja, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Sejumlah urusan kerajaan dibahas melalui musyawarah adat, sementara tamu-tamu penting diterima di kompleks istana.

Keberadaan istana tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kerajaan Tamiang, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam tua di Aceh.

Arsitektur Istana Dipengaruhi Gaya Belanda

Selain menyimpan nilai sejarah, Istana Benua Raja memiliki karakter arsitektur yang menarik untuk dipelajari.

Bentuk fasad bangunannya memperlihatkan pengaruh arsitektur kolonial Eropa, khususnya Belanda. Kompleks istana terdiri atas rumah raja dan pendopo yang berada di samping kediaman utama.

Susunan bangunan tersebut menggambarkan fungsi kompleks istana pada masa lalu, baik sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan maupun ruang untuk menjalankan kegiatan pemerintahan dan adat.

Hingga kini, Istana Benua Raja masih relatif terawat dan telah ditetapkan sebagai situs sejarah budaya.

Namun, berdasarkan hasil wawancara mahasiswa, bangunan tersebut masih dikelola dan dihuni oleh ahli waris Kerajaan Tamiang, bukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran keluarga pewaris dalam menjaga keberadaan bangunan sekaligus meneruskan cerita sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, pelestarian istana membutuhkan perhatian berkelanjutan agar keaslian bangunan dan informasi sejarah di dalamnya tetap terjaga.

Jadi Sumber Belajar Sejarah Lokal

Bagi mahasiswa PGSD Universitas Samudra, kunjungan ke Istana Benua Raja memberikan kesempatan untuk mempelajari sejarah lokal melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan narasumber yang memiliki hubungan keluarga dengan pewaris kerajaan.

Tim mahasiswa menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan tentang asal-usul istana, tetapi juga memperlihatkan pentingnya peninggalan sejarah sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik.

Dalam konteks mata kuliah Media Pembelajaran, Istana Benua Raja dapat dimanfaatkan sebagai media belajar kontekstual untuk mengenalkan sejarah dan budaya daerah kepada siswa sekolah dasar.

Melalui pembelajaran langsung di lingkungan bersejarah, siswa diharapkan lebih mudah memahami kehidupan masyarakat pada masa lalu sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini