Pertalite Langka di Torut, Warga Torut Antre Berjam-jam, Satlantas Malah Sibuk Periksa STNK di SPBU
RANTEPAO, TEKAPE.co – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, memicu keluhan warga.
Di tengah antrean panjang dan pembatasan pembelian, kebijakan pemeriksaan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) oleh petugas Satlantas Polres Toraja Utara di SPBU Bolu turut menuai sorotan.
Warga menilai, pemeriksaan dokumen kendaraan di tengah kesulitan mendapatkan BBM justru menambah beban pengendara.
Mereka harus menghadapi antrean berjam-jam, sementara jumlah pasokan Pertalite disebut jauh berkurang dibandingkan kondisi sebelumnya.
Sejumlah warga berharap aparat tidak hanya melakukan pengawasan di SPBU, tetapi juga memberikan penjelasan terbuka mengenai tujuan dan dasar hukum pemeriksaan tersebut.
Antre Berjam-jam, Pengendara Kembali Dihadapkan Pemeriksaan STNK
Kebijakan pemeriksaan STNK di SPBU Bolu menjadi salah satu persoalan yang dikeluhkan warga.
Petugas kepolisian dari Polsek setempat bersama Satlantas Polres Toraja Utara dilaporkan melakukan pemeriksaan terhadap pengendara sebelum mereka memasuki area pengisian BBM.
Langkah tersebut menuai pertanyaan dari masyarakat, terutama mengenai ketentuan yang menjadi dasar pemeriksaan dan konsekuensinya bagi pengendara yang tidak membawa STNK saat mengantre.
Warga mempertanyakan apakah pengendara yang tidak dapat menunjukkan dokumen kendaraan akan ditolak untuk mengisi BBM, meskipun telah menunggu selama berjam-jam.
Di tengah kondisi pasokan yang terbatas, mereka berharap pengawasan dilakukan secara proporsional dan tidak semakin menyulitkan masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Persoalan ini juga memunculkan desakan agar Polres Toraja Utara memberikan penjelasan resmi mengenai tujuan pemeriksaan, dasar hukum, serta prosedur yang diterapkan petugas di SPBU.
Pasokan Pertalite Disebut Turun Drastis
Di balik antrean panjang tersebut, persoalan pasokan Pertalite menjadi keluhan utama pengelola SPBU.
Pengawas SPBU Bolu, Nurjanna, mengatakan pasokan Pertalite yang sebelumnya mencapai 16 ton per hari, kini disebut hanya tersedia 16 ton per minggu.
Menurutnya, perubahan pola pasokan tersebut membuat SPBU kesulitan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pengiriman yang tidak lagi rutin setiap hari juga menyebabkan pengelola harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pasokan berikutnya.
“Pertalite hanya satu kali stok dalam seminggu. Dulunya 16 ton per hari, kini dijatah per minggu. Kalau kita order hari ini, mungkin satu minggu baru datang lagi,” ujar Nurjanna, Rabu (14/10/2026).
Keterangan tersebut mengarah pada persoalan distribusi yang perlu dijelaskan lebih lanjut oleh pihak Pertamina Patra Niaga.
Hingga berita ini dibuat, belum terdapat keterangan resmi dari pihak Pertamina mengenai penyebab perubahan pasokan sebagaimana disampaikan pengawas SPBU.
Warga pun meminta transparansi mengenai kuota yang dialokasikan untuk Toraja Utara, termasuk alasan perubahan jumlah pasokan dan langkah yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sopir Travel Keluhkan Batas Pembelian Rp250 Ribu
Dampak keterbatasan Pertalite turut dirasakan pengemudi angkutan umum dan travel yang bergantung pada ketersediaan BBM untuk menjalankan usaha.
Ardin Masokan, seorang pengemudi travel lintas kabupaten, mengeluhkan pembatasan pembelian Pertalite maksimal Rp250.000 per mobil.
Menurutnya, nominal tersebut dinilai tidak mencukupi kebutuhan operasional perjalanan jarak jauh.
“Mana cukup kalau cuma Rp250 ribu per mobil? Kasihan kami masyarakat kalau dihimpit dengan pembatasan seketat ini,” keluh Ardin.
Ia menilai persoalan kelangkaan tidak semestinya hanya dikaitkan dengan dugaan praktik pelansiran BBM.
Menurutnya, jumlah pasokan yang disebut berkurang perlu menjadi perhatian utama.
“Bukan itu kendala utamanya, Pak! Tapi jumlah kuota dari pusat yang memang dibatasi dari biasanya!” tegasnya.
Keluhan tersebut menggambarkan dampak kelangkaan terhadap masyarakat yang menggunakan kendaraan sebagai sumber penghasilan.
Ketika pasokan terbatas dan pembelian dibatasi, pengemudi menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan operasional, sekaligus menjaga kelangsungan layanan kepada penumpang.
Warga Minta Polisi dan Pertamina Buka Penjelasan
Masyarakat berharap persoalan kelangkaan Pertalite di Toraja Utara tidak berhenti pada pengawasan kendaraan di SPBU.
Pertamina Patra Niaga diminta menjelaskan perubahan pasokan yang dikeluhkan pengelola SPBU, sedangkan Polres Toraja Utara diharapkan memberikan keterangan mengenai dasar hukum dan tujuan pemeriksaan STNK yang dilakukan di lokasi pengisian BBM.
Kejelasan diperlukan agar masyarakat tidak terus dibebani ketidakpastian di tengah kebutuhan BBM yang mendesak.
Pengawasan terhadap distribusi BBM bersubsidi tetap penting. Namun, warga juga membutuhkan kepastian bahwa kebijakan di lapangan dilaksanakan berdasarkan aturan yang jelas, dengan prosedur yang dapat dipahami dan diterapkan secara proporsional.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat konfirmasi dari Kasat Lantas atau Kapolres Toraja Utara serta Pertamina Patra Niaga, khususnya mengenai penjelasan dasar pemeriksaan STNK, ketentuan pembelian Rp250.000, dan perubahan kuota pasokan Pertalite. (erlin)





Tinggalkan Balasan