IMIP Terapkan Supercritical Boiler, Efisiensi PLTU Naik dan Emisi Turun
MOROWALI, TEKAPE.co – Upaya mendorong industri yang lebih efisien dan berkelanjutan terus dilakukan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Salah satu langkah yang ditempuh adalah penerapan teknologi Supercritical Boiler pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT Qing Kota Metal (QKM), salah satu tenant di kawasan industri tersebut.
Teknologi yang digunakan pada PLTU berkapasitas 380 megawatt (MW) itu diklaim mampu meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik sekaligus mengurangi konsumsi batu bara, sehingga berdampak pada penurunan emisi gas buang dan limbah hasil pembakaran.
Manajer Departemen Environmental PT IMIP, Yundi Sobur mengatakan, teknologi supercritical bekerja dengan memanfaatkan tekanan dan temperatur uap yang berada di atas titik kritis air.
Sistem ini berbeda dengan pembangkit konvensional karena tidak lagi melalui proses pendidihan dan pemisahan air serta uap yang berpotensi menyebabkan kehilangan energi.
“Untuk memastikan seluruh aktivitas pembangkitan memenuhi standar lingkungan yang berlaku, PLTU PT Qing Kota Metal dilengkapi dengan berbagai sistem pengendalian pencemaran udara modern. Fasilitas tersebut meliputi Flue Gas Desulfurization (FGD) untuk mengendalikan emisi sulfur dioksida serta Electrostatic Precipitator (ESP) dan Bag House Filter untuk mengurangi emisi partikulat dari proses pembakaran,” jelas Yundi Sobur, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi termal pembangkit hingga mencapai kisaran 38–45 persen.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan PLTU subkritis yang umumnya memiliki efisiensi sekitar 33–39 persen.
Peningkatan efisiensi itu membuat kebutuhan batu bara menjadi lebih rendah untuk menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang sama.
Dampaknya tidak hanya pada penghematan penggunaan bahan bakar, tetapi juga pada berkurangnya emisi karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat yang dihasilkan selama proses pembakaran.
Yundi menjelaskan, teknologi supercritical dinilai sesuai diterapkan pada pembangkit listrik berkapasitas besar karena mampu mengoptimalkan kinerja pembangkit sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan di kawasan industri.
Kinerja pengendalian emisi tersebut, lanjut dia, tercermin dari hasil pemantauan emisi cerobong PLTU. Pada semester II 2025, konsentrasi sulfur dioksida tercatat sebesar 129,9 mg/Nm³, nitrogen oksida 146,9 mg/Nm³, partikulat 24,9 mg/Nm³, dan merkuri 0,022 mg/Nm³.
Sementara itu, pada semester I 2026, hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida turun menjadi 81 mg/Nm³. Emisi nitrogen oksida tercatat 165 mg/Nm³, partikulat hanya 3 mg/Nm³, sedangkan merkuri sebesar 0,01 mg/Nm³.
Menurut Yundi, seluruh hasil pengukuran tersebut masih berada di bawah baku mutu emisi yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 15 Tahun 2019, sehingga menunjukkan sistem pengendalian emisi bekerja secara efektif.
Selain menekan emisi udara, penerapan teknologi supercritical juga dinilai mampu mengurangi timbulan limbah fly ash dan bottom ash (FABA).





Tinggalkan Balasan