Empat Siswi SMAN 10 Luwu Dirawat, Belum Pastikan Terkait MBG
LUWU, TEKAPE.co – Empat siswi SMAN 10 Luwu, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dirawat di Puskesmas Bua setelah mengalami diare, muntah, dan sakit perut. Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu belum dapat memastikan keluhan tersebut berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para siswa pada Rabu, 9 September 2026.
Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, Mayasari S.KM, M.KM, mengatakan penelusuran awal menunjukkan para siswi yang mengalami keluhan juga memiliki riwayat kesehatan dan mengonsumsi makanan lain sebelum maupun setelah menyantap MBG.
“Jadi kita belum bisa menarik kesimpulan ini dari MBG, karena juga harus dibuktikan dengan hasil laboratorium,” kata Mayasari.
Empat siswi tersebut menjalani perawatan di Puskesmas Bua pada Kamis, 10 September 2026. Pasien pertama masuk sekitar pukul 08.30 Wita, pasien kedua pukul 12.30 Wita, pasien ketiga pukul 16.00 Wita, dan pasien keempat sekitar pukul 22.00 Wita.
Dokter Puskesmas Bua, dr. Bunadi, mengatakan diagnosis sementara diberikan berdasarkan gejala karena penyebab keluhan belum diketahui.
“Diagnosisnya berdasarkan gejala kalau kita di sini, karena belum ada penyebabnya. Gejala yang dialami pasien adalah muntah, diare, dan sakit perut. Tapi tadi saya tanya, sebelum makan, makan di kantin dulu, sebelumnya makan di rumah. Jadi, untuk memastikan itu, kita tunggu saja hasil dari Dinkes,” jelasnya.
Tiga Siswi Memiliki Riwayat Maag
Kepala Puskesmas Bua, Muh Ali Aksan, mengatakan seluruh pasien yang dirawat merupakan siswi perempuan. Dari pemeriksaan dan penelusuran awal, tiga siswi memiliki riwayat maag, sedangkan satu siswi memiliki riwayat infeksi saluran kemih.
“Kalau yang masuk Puskesmas ada empat siswi. Jadi semuanya perempuan,” kata Muhammad Ali.
Menurut Ali, siswi pertama datang sekitar pukul 08.30 Wita. Berdasarkan keterangan siswi dan orangtuanya, pasien tersebut tidak sarapan sebelum mengalami keluhan dan memiliki riwayat maag.
Pasien kedua masuk sekitar pukul 12.30 Wita dengan keluhan diare. Siswi tersebut mengaku mengonsumsi makanan MBG pada Rabu siang, kemudian makan malam dan sarapan sebelum mengalami keluhan.
Pasien ketiga masuk sekitar pukul 16.00 Wita dengan keluhan diare. Siswi tersebut juga mengaku mengonsumsi MBG pada Rabu siang, kemudian makan malam, sarapan, dan makan siang pada hari berikutnya.
Sementara pasien keempat masuk sekitar pukul 22.00 Wita dengan keluhan diare.
“Dari empat orang itu ada tiga orang riwayat maag, satu orang ada yang infeksi saluran kemih. Jadi makanya dia sering sakit perut di bagian bawah,” kata Muhammad Ali.
Kondisi keempat siswi tersebut kini telah membaik. Satu siswi sebenarnya sudah akan dipulangkan, tetapi dokter masih melakukan evaluasi sehingga yang bersangkutan tetap menjalani observasi di ruang rawat inap.
Seluruh biaya perawatan ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Bagi siswa yang kepesertaan BPJS-nya belum aktif, Puskesmas dapat membantu melalui program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Luwu.
“Jadi selama dia KK atau KTP Luwu, dia bisa berobat gratis dengan program UHC itu,” kata Ali.
Enam Siswa Mengeluh Sakit Perut
Kepala SMAN 10 Luwu, Arifin, mengatakan terdapat enam siswa yang meminta izin pulang pada Kamis, 10 September 2026, sekitar pukul 13.00 Wita karena mengeluh sakit perut.
Menurut Arifin, para siswa juga mengalami kesulitan menggunakan toilet sekolah karena sumur mengalami kekeringan akibat musim kemarau.
Para siswa sebelumnya menyantap MBG pada Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 12.30 Wita. Keluhan sakit perut mulai dirasakan pada waktu yang berbeda, yakni sekitar pukul 03.00, 04.00, 05.00 hingga pagi hari berikutnya.
Arifin mengatakan pihak sekolah belum dapat menyimpulkan keluhan tersebut disebabkan makanan dari program MBG karena terdapat jeda waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala. Para siswa juga mengonsumsi makanan lain.
“Nah, jadi kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa itu faktor MBG, karena sudah selang beberapa waktu dan sudah ada makanan lain juga yang mereka konsumsi sebelum itu dan sesudah itu,” ungkapnya.
Arifin merinci tiga siswa masuk ke puskesmas pada Kamis tersebut dan satu siswa menyusul sekitar pukul 21.30 Wita. Siswa terakhir diketahui sebelumnya mengonsumsi somay pedas dan memiliki riwayat maag.
Meski terdapat siswa yang mengalami keluhan, Arifin mengatakan pihak sekolah masih menerima dan mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Sampai sekarang kami masih menerima manfaat MBG. Bahkan tadi anak-anak saya ada yang kami kumpul, saya tanya ada yang makan MBG, jawabannya masih makan,” katanya.
SMAN 10 Luwu menerima sekitar 803 porsi MBG sesuai jumlah siswa, ditambah porsi untuk guru dan staf.
Arifin juga mengaku ikut mengonsumsi makanan MBG pada Rabu. Bahkan, ia sempat mengonsumsi dua porsi karena ada makanan milik rekannya yang tidak dimakan.
“Saya sempat menikmati MBG dan alhamdulillah pada hari itu sempat makan dua porsi karena ada teman satu yang tidak makan. Jadi karena saya lapar dan tidak sarapan, saya makan dua porsi. Alhamdulillah sehat walafiat, tidak ada efek sama sekali,” katanya.
Dinkes Periksa SPPG dan Sampel
Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu telah meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG ke SMAN 10 Luwu.
Mayasari mengatakan berdasarkan pemeriksaan awal, proses pengolahan, pengangkutan bahan baku, hingga pencucian peralatan di SPPG dinilai telah sesuai standar higiene.
Namun, Dinkes masih menelusuri faktor lain, termasuk higiene personal para siswa serta kemungkinan kontaminasi ketika makanan diterima dan dikonsumsi.
“Tapi kembali lagi dari mungkin dari higien perorangannya dari murid kah, personal higien-nya kan enggak diketahui. Higienis tangannya, dari cara saat pengangkutan, pemasukan omprongan kan kita enggak tahu juga toh? Ini sebenarnya banyak faktor pemicunya. Jadi kita belum bisa menarik kesimpulan ini,” ujarnya.
Menurut Mayasari, pemeriksaan sampel juga menghadapi kendala. Sampel makanan yang tersedia masih perlu ditelusuri untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi dari makanan lain.
Sementara itu, sampel feses atau muntahan pasien sulit diambil karena kejadian berlangsung pada 9 September, sedangkan laporan baru diterima pada 10 September. Para siswa juga telah mengonsumsi makanan lain setelah menyantap MBG.
“Untuk sampel manusia juga sulit diuji lagi karena kasusnya terjadi pada tanggal 9, sedangkan laporan baru masuk pada tanggal 10, itu pun siang dan sore. Murid sudah mengonsumsi makanan di rumah. Jadi, feses dan muntahan sudah tidak bisa diambil lagi karena hasilnya tidak bisa dipastikan berasal dari MBG, mengingat murid sudah mengonsumsi makanan lain di rumah,” kata Mayasari.
Dia mengatakan sampel makanan juga harus dipastikan berasal dari makanan MBG dan tidak tercampur dengan makanan lain yang dikonsumsi siswa. Jika tidak dapat dipastikan, sampel tersebut tidak dapat digunakan untuk membuktikan sumber penyebab keluhan.
“Jadi kita belum bisa menarik kesimpulan dan belum bisa menyimpulkan bahwa ini faktor dari MBG itu sendiri,” ujarnya.
Mayasari mengatakan berdasarkan gejala, keluhan yang dialami siswa dapat mengarah pada gejala keracunan pangan. Namun, sumber penyebabnya belum dapat dipastikan.
“Kesimpulan berdasarkan gejalanya dapat di simpulkan kalau ini adalah gejala dari keracunan pangan namun sangat sulit menentukan apakah ini faktor risiko dari setelah makan MBG, atau setelah memakan makanan lain dikarenakan murid yang sakit diwaktu yang bersamaan juga mengmkonsumsi makanan dari kantin sekolah, rumah dan bahkan jajanan luar juga seperti cilok pedis ditambah lagi dengan sampel yang sudah tidak layak uji kaboratotium,” ungkapnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu selanjutnya akan menangani siswa yang sakit hingga sembuh dan melakukan pemantauan di seluruh sekolah penerima manfaat MBG, mulai tingkat TK, SD hingga SMA.
“Setelah ini pasien yang sakit kita lakukan penanggulangan pengobatan di puskesmas sampai betul-betul sembuh dan pemantauan dengan semua sekolah yang menerima manfaat, mulai dari TK, SD sampai SMA,” tandasnya. (hms)





Tinggalkan Balasan