Tana Luwu di Masa Depan
Penulis: Iqra Muslim Said
(Sekretaris Jenderal PP IPMIL)
OPINI, TEKAPE.co – Ada alasan mengapa kita sebagai orang Luwu begitu mudah merasa bangga ketika menyebut tanah kelahiran kita. Tana Luwu memiliki sejarah yang panjang, kebudayaan yang kuat, dan sumber daya alam yang melimpah. Tetapi menurut saya, kebanggaan itu tidak boleh berhenti pada kalimat bahwa “Luwu kaya”.
Sebab kekayaan sebuah daerah tidak hanya dilihat dari apa yang tersimpan di dalam tanahnya, tetapi dari sejauh mana kekayaan tersebut mampu mengubah kehidupan orang-orang yang tinggal di atasnya. Pertanyaan tentang Tana Luwu hari ini bukan lagi sekadar apa yang kita punya, melainkan apakah kita mampu mengelola apa yang kita punya untuk masa depan generasi berikutnya.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika berbagai aktivitas investasi dan industri berkembang di Tana Luwu. Di Kabupaten Luwu, misalnya, ada Proyek Emas Awak Mas yang dikembangkan PT Masmindo Dwi Area di Kecamatan Latimojong. Di Bua, terdapat PT Bumi Mineral Sulawesi yang mengembangkan industri pengolahan mineral, serta PT Bukaka Mandiri Sejahtera yang bergerak dalam industri pengolahan pertambangan dan perdagangan feronikel.
Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa Tana Luwu mempunyai potensi ekonomi yang dilirik oleh dunia usaha. Pemerintah daerah pun melihat investasi sebagai salah satu instrumen pembangunan dan mendorong agar keberadaannya memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, termasuk melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya. Ketika kekayaan alam Luwu semakin banyak dilirik oleh investasi, apa posisi masyarakat Luwu di dalamnya? Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang tinggal di sekitar kawasan tambang atau industri, sementara keputusan, teknologi, keahlian, dan sebagian besar rantai nilai justru berada di luar daerah.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa investasi adalah sesuatu yang harus ditolak. Justru sebaliknya, investasi dapat menjadi bagian penting dari pembangunan. Tetapi investasi harus mampu menciptakan hubungan yang nyata dengan masyarakat lokal. Anak-anak Luwu harus mempunyai kesempatan untuk bekerja, belajar, menjadi pemasok, membangun usaha, menguasai teknologi, bahkan kelak menjadi orang-orang yang memimpin industri tersebut.
Kita juga harus mengubah cara berpikir mengenai sumber daya alam. Selama ini, ukuran keberhasilan sering kali berhenti pada berapa banyak investasi yang masuk dan berapa banyak sumber daya yang dapat diproduksi. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting: berapa banyak nilai tambah yang tinggal di daerah? Berapa banyak tenaga kerja lokal yang memperoleh kesempatan? Berapa banyak usaha masyarakat yang tumbuh karena hadirnya industri? Dan bagaimana kondisi lingkungan setelah kegiatan ekonomi tersebut berlangsung?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan bentuk permusuhan terhadap perusahaan. Justru inilah bentuk tanggung jawab sosial dari masyarakat yang daerahnya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan investasi.
Bagi saya, persoalan terbesar Tana Luwu bukan karena kita kekurangan kekayaan alam. Persoalannya adalah apakah kita memiliki sumber daya manusia yang cukup kuat untuk mengelola kekayaan tersebut. Percuma berbicara tentang emas, mineral, perkebunan dan industri jika anak-anak mudanya tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Jangan sampai orang Luwu hanya menjadi penonton ketika tanahnya sendiri mengalami industrialisasi. Karena itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan, dan organisasi kepemudaan perlu membangun hubungan yang lebih serius dalam menyiapkan generasi muda. Pendidikan vokasi, pelatihan, riset, teknologi dan kewirausahaan harus menjadi bagian dari pembicaraan tentang masa depan investasi di Tana Luwu.
Di sisi lain, kita tidak boleh lupa bahwa Luwu bukan hanya tentang apa yang bisa ditambang. Ada kebudayaan, sejarah, laut, hutan, pertanian, perkebunan dan kehidupan masyarakat yang juga harus dijaga. Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi mengabaikan lingkungan dan kebudayaan pada akhirnya dapat meninggalkan persoalan baru bagi generasi berikutnya.
Kita tentu ingin melihat Tana Luwu maju, tetapi kemajuan itu harus tetap membuat masyarakatnya memiliki ruang untuk hidup dengan layak dan mempertahankan identitasnya. Jangan sampai suatu hari kita memiliki banyak industri tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit dikembalikan: lingkungan dan kebudayaan.
Karena itu, pemuda Tana Luwu tidak boleh hanya menjadi generasi yang pandai mengkritik setelah sebuah persoalan terjadi. Kita harus mulai membangun tradisi berpikir dan bekerja sejak sekarang.
Sebagai Sekertaris Jendral PP IPMIL, saya melihat organisasi mahasiswa daerah seperti IPMIL dan banyak lagi organisasi lainnya, ini tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa asal Luwu. Organisasi harus menjadi tempat untuk melahirkan gagasan tentang daerah. Kita harus mampu membaca kebijakan pemerintah, memahami investasi, mengkaji persoalan lingkungan, memperjuangkan pendidikan, dan mengawal kepentingan masyarakat.
Kritik tetap penting, tetapi kritik yang tidak disertai pengetahuan dan gagasan hanya akan menjadi suara yang lewat begitu saja.
Pada akhirnya, Tana Luwu di masa depan sangat bergantung pada pilihan generasi hari ini. Kita bisa membiarkan kekayaan alam berjalan dengan logikanya sendiri, sementara masyarakat hanya menunggu dampaknya. Atau kita dapat membangun kesadaran bahwa kekayaan tersebut harus dikelola dengan tata kelola yang baik, keterlibatan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia Luwu.
Saya memilih untuk melihat masa depan Tana Luwu sebagai sebuah tanggung jawab, bukan sekadar harapan. Sebab kita tidak ingin kelak generasi setelah kita hanya mendengar bahwa tanah leluhurnya pernah kaya. Kita ingin mereka dapat mengatakan bahwa kekayaan itu pernah dikelola dengan benar dan menjadi jalan bagi kehidupan yang lebih baik.
Tana Luwu tidak cukup hanya kaya di dalam tanah. Kekayaan itu harus terasa dalam kehidupan masyarakatnya. (*)





Tinggalkan Balasan