Tak Kenal Lelah Padamkan Api Karhutla Buntu Barru, Kisah Pengabdian Pj Kades Lengkong Muh. Darusalam
LUWU, TEKAPE.co – Saat sebagian orang terlelap dalam tidur, Muh. Darusalam justru masih menyusuri pegunungan Buntu Barru, Desa Lengkong, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Di tengah gelapnya malam dan pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Penjabat (Pj) Kepala Desa Lengkong itu memilih tetap bertahan di lokasi, memastikan api tidak semakin meluas dan mengancam kebun warga.
Lelah, lapar, dan kantuk seolah harus dikesampingkan. Bersama warga, petugas pemadam kebakaran, aparat kepolisian, serta unsur pemerintah kecamatan, Darusalam berjibaku menghadapi kobaran api yang terus merambat di kawasan pegunungan.
Baginya, berada di tengah warga dalam situasi sulit bukan sekadar menjalankan tugas sebagai kepala desa. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjaga keselamatan masyarakat dan berupaya menyelamatkan sumber penghidupan mereka.
Sejak kebakaran melanda Buntu Barru, Darusalam turun langsung ke lapangan. Ia bersama warga dan kepala desa terpilih melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW) menyusuri kawasan pegunungan untuk mencari titik api dan membantu proses pemadaman.
Bahkan, ia mengaku sempat berkeliling hingga dini hari untuk memastikan sumber-sumber api yang masih menyala dapat ditemukan dan ditangani.
Di tengah kepulan asap dan medan yang sulit, waktu istirahat nyaris tidak tersedia. Makan dan minum pun kerap terlupakan karena perhatian tertuju pada upaya mengendalikan api.
Di balik perannya sebagai pemimpin desa, Darusalam berada di tengah kecemasan yang juga dirasakan masyarakatnya. Sebab, kebakaran yang melanda pegunungan itu bukan hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam kebun yang selama ini menjadi sandaran ekonomi keluarga petani.
Bukan Sekadar Memadamkan Api, Ada Penghidupan Warga yang Harus Diselamatkan
Kebakaran di kawasan Buntu Barru telah menyebar ke tujuh titik, mulai dari sisi barat hingga ke arah timur. Luas wilayah terdampak diperkirakan mencapai sekitar 100 hektare.
Dampaknya mulai dirasakan para petani. Sejumlah tanaman perkebunan, terutama cengkeh, dilaporkan terbakar dengan jumlah lebih dari 100 pohon. Tanaman kakao, pala, dan merica juga ikut terdampak maupun terancam kobaran api.
Di bagian timur kawasan kebakaran, api bahkan telah merambat ke perkebunan merica milik warga.
“Untuk di Desa Lengkong, di Buntu Barru, titik kebakaran sudah mencapai tujuh titik lokasi, mulai dari arah barat sampai mengarah ke timur,” kata Darusalam.
Kerugian material sementara diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Namun, angka tersebut masih membutuhkan pendataan lebih lanjut untuk mengetahui besarnya kerugian yang dialami masing-masing petani.
Bagi Darusalam, setiap titik api yang berhasil dikendalikan memiliki arti penting. Di balik setiap kebun yang berusaha diselamatkan, ada keluarga yang menggantungkan penghidupan dari hasil perkebunan mereka.
Itulah yang membuat upaya pemadaman tidak bisa dipandang sebagai pekerjaan biasa. Ada harapan masyarakat yang ikut dipertaruhkan di tengah kobaran api.
Bertahan di Medan Terjal dengan Segala Keterbatasan
Perjuangan Darusalam bersama warga dan petugas bukan tanpa hambatan. Medan pegunungan yang terjal dan menanjak menjadi tantangan tersendiri. Ketersediaan air untuk pemadaman juga terbatas, sementara asap pekat terus menyelimuti sejumlah titik kebakaran.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan perlindungan bagi petugas dan warga pun belum sepenuhnya terpenuhi. Masker untuk mengurangi paparan asap masih dibutuhkan, begitu pula air minum bagi mereka yang bertahan di lokasi.
Pemerintah Desa Lengkong terus berkoordinasi untuk mengupayakan bantuan yang diperlukan guna mendukung proses penanganan kebakaran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong saja belum cukup. Perjuangan warga di lapangan juga membutuhkan dukungan peralatan, logistik, dan sarana pemadaman yang memadai.
Darusalam berharap kebutuhan tersebut mendapat perhatian agar penanganan karhutla dapat berjalan lebih optimal.
“Kami masih kekurangan air untuk penyemprotan. Air bersih juga dibutuhkan untuk diminum saat berada di lokasi. Selain itu, kalau bisa, kami membutuhkan bantuan armada untuk pemadaman di wilayah bagian selatan karena masih ada titik api yang terbakar di sana,” ujarnya.
Ia berharap tambahan armada pemadam kebakaran dapat membantu menjangkau titik-titik api yang sulit diakses, terutama di wilayah selatan yang masih mengalami kebakaran.
Mengajak Warga Menjaga Tanah dan Sumber Penghidupan
Di tengah kesibukannya membantu pemadaman, Darusalam juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun membakar sampah yang berpotensi memicu kebakaran baru.
Ia mendorong warga untuk ikut bergotong royong membersihkan jalur tertentu guna membantu menghambat rambatan api. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya sementara untuk mengurangi risiko penyebaran kebakaran, khususnya di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah, petugas, relawan, dan masyarakat harus bergerak bersama agar api tidak semakin meluas dan kerugian warga dapat ditekan.
“Kami berharap masyarakat ikut berpartisipasi membantu tim dan relawan yang sedang berjuang memadamkan api di Desa Lengkong,” katanya.
Ajakan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab petugas atau pemerintah desa. Kesadaran masyarakat untuk mencegah sumber kebakaran baru juga menjadi bagian penting dari upaya melindungi kawasan pegunungan dan perkebunan warga.
Pengabdian yang Belum Usai
Di Buntu Barru, malam-malam panjang masih diwarnai perjuangan melawan api. Darusalam bersama warga dan petugas terus berupaya mengendalikan kebakaran di tengah medan yang sulit dan keterbatasan sarana.
Kisahnya memperlihatkan sisi lain dari tanggung jawab seorang pemimpin desa: hadir ketika masyarakat menghadapi keadaan paling sulit, ikut merasakan beratnya perjuangan di lapangan, dan berusaha mencari jalan keluar di tengah keterbatasan.
Namun, perjuangan itu tidak semestinya bertumpu pada ketahanan warga dan petugas semata. Ketersediaan air, masker, dukungan logistik, serta tambahan armada pemadam menjadi kebutuhan penting agar penanganan kebakaran dapat berlangsung lebih efektif dan aman.
Bagi Darusalam, tugas itu belum selesai selama api masih menyala. Sebab, yang sedang diperjuangkan bukan hanya padamnya kobaran di pegunungan Buntu Barru, melainkan juga keselamatan masyarakat, keberlangsungan kebun, dan sumber penghidupan warga Desa Lengkong.
Di tengah kepungan asap dan lelah yang belum terbayar istirahat, ia memilih tetap berada di lapangan. Sebuah bentuk pengabdian yang lahir dari tanggung jawab, kepedulian, dan harapan agar tanah tempat warganya mencari nafkah tidak semakin banyak dilalap api. (*)





Tinggalkan Balasan