Dari Lokakarya ke Kebijakan, Mannennungeng Serahkan Policy Brief untuk Pemkab Bone
Program Mannennungeng tidak hanya berfokus pada pendampingan masyarakat, tetapi juga menghadirkan penerapan teknologi dan penguatan kapasitas petani.
Hasil program menunjukkan produktivitas padi meningkat dari sekitar 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare.
Selain itu, penggunaan air berhasil ditekan hingga 25 persen dan penggunaan pupuk kimia berkurang hingga 50 persen.
Capaian tersebut menjadi salah satu hasil yang dipaparkan dalam lokakarya.
Dosen Pendamping Program Mannennungeng, Muh Adnan Kasogi, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, instansi vertikal dan pemangku kepentingan lainnya.
“Program Mannennungeng bukanlah kerja satu pihak saja. Ini adalah hasil gotong royong antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, instansi vertikal, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami bersyukur karena proses pendampingan yang kami lakukan sejak awal telah membuahkan hasil nyata, tidak hanya dalam bentuk teknologi, tetapi juga dalam penguatan kelembagaan dan kapasitas petani,” ujarnya.
Menurut Adnan, lokakarya tersebut bukan menjadi akhir dari Program Mannennungeng.
Justru, keberlanjutan program setelah pendampingan mahasiswa menjadi tantangan berikutnya.
“Namun, lokakarya ini bukanlah akhir. Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai—yaitu memastikan bahwa apa yang telah kita bangun bersama terus hidup dan berkembang. Kami dari Universitas Hasanuddin akan terus hadir mendampingi, meskipun dengan peran yang semakin kecil, karena tujuan akhir kita adalah kemandirian masyarakat,” katanya.
Tokoh Adat Dorong Program Berkelanjutan
Tokoh adat Bone Andi Irwansyah mengapresiasi kontribusi mahasiswa Unhas melalui Program Mannennungeng.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berbicara mengenai peningkatan hasil pertanian, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan dan pewarisan nilai kepada generasi berikutnya.





Tinggalkan Balasan