Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Awas! Bayi Terlihat Sehat, Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak dan Dampaknya Menetap

Ilustrasi. (net)

Salah satu hal yang membuat defisiensi besi perlu diwaspadai adalah proses terjadinya yang berlangsung secara bertahap.

Pada tahap awal, cadangan zat besi dalam tubuh mulai berkurang. Kondisi ini dapat ditandai dengan penurunan kadar feritin, sementara kadar hemoglobin (Hb) masih berada dalam batas normal.

Akibatnya, bayi belum tentu menunjukkan tanda-tanda yang jelas sehingga orangtua bisa tidak menyadari bahwa anaknya mulai mengalami kekurangan zat besi.

“Pada tahap awal itu adalah hanya feritin. Kemudian kalau ini kita tidak ketahui, kemudian makanannya juga kurang mengandung besi, berlanjut lagi menjadi defisiensi,” jelas Murti.

Jika tidak diketahui dan ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Pada tahap ini, kekurangan zat besi telah mengganggu pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen.

Karena itu, orangtua tidak seharusnya hanya mengandalkan kondisi fisik bayi sebagai patokan untuk memastikan kecukupan zat besi.

Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan

Mengingat gejala awalnya dapat sulit dikenali, Murti menekankan pentingnya deteksi dini kekurangan zat besi, khususnya selama 1.000 hari pertama kehidupan.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memastikan bayi dan anak mendapatkan asupan zat besi yang sesuai dengan usia serta kebutuhannya. Pemantauan kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi juga diperlukan untuk membantu mengenali potensi kekurangan zat besi sejak awal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini