Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Awas! Bayi Terlihat Sehat, Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak dan Dampaknya Menetap

Ilustrasi. (net)

JAKARTA, TEKAPE.co – Kekurangan zat besi pada bayi menjadi kondisi yang perlu diwaspadai orangtua. Pasalnya, gangguan ini tidak selalu menunjukkan gejala yang mudah dikenali, bahkan bayi bisa tetap terlihat sehat dan aktif meski cadangan zat besi dalam tubuhnya mulai menurun.

Padahal, zat besi memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan otak, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan. Pada periode tersebut, otak bayi berkembang sangat pesat sehingga membutuhkan asupan zat besi yang cukup.

Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K), mengingatkan bahwa kekurangan zat besi pada bayi berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan otak.

Menurut Murti, anemia akibat kekurangan zat besi memang dapat ditangani melalui pemberian zat besi. Namun, keberhasilan pengobatan yang ditandai dengan membaiknya hasil pemeriksaan laboratorium tidak selalu berarti seluruh dampak yang telah terjadi bisa dipulihkan.

“Misalnya seorang bayi mengalami anemia defisiensi besi, itu kita bisa mengobati. Bisa kita kasih besi, akhirnya besinya normal,” ujar Murti, Kamis (8/10/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dampak kekurangan zat besi terhadap perkembangan otak dapat menetap meskipun parameter laboratorium telah kembali normal.

“Walaupun secara laboratorium parameter laboratoriumnya normal, tetapi dampak atau efek defisiensi besi yang sudah terjadi itu, terutama pada perkembangan otaknya, itu irreversible,” kata dia.

Otak Bayi Berkembang Pesat pada Tahun Pertama

Murti menjelaskan, kebutuhan zat besi pada masa awal kehidupan berkaitan erat dengan pesatnya perkembangan otak bayi. Zat besi dibutuhkan dalam berbagai proses penting, termasuk plastisitas otak dan mielinisasi.

Mielinisasi merupakan proses pembentukan selubung mielin yang membantu mempercepat penghantaran sinyal pada sel saraf. Proses ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan sistem saraf.

“Karena nanti volume otak itu akan sangat berkembang pesat pada usia satu tahun pertama,” ujar Murti.

Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan zat besi dan deteksi dini kekurangannya menjadi hal penting agar perkembangan anak tidak terganggu.

Kekurangan Zat Besi Tidak Selalu Langsung Menjadi Anemia

Salah satu hal yang membuat defisiensi besi perlu diwaspadai adalah proses terjadinya yang berlangsung secara bertahap.

Pada tahap awal, cadangan zat besi dalam tubuh mulai berkurang. Kondisi ini dapat ditandai dengan penurunan kadar feritin, sementara kadar hemoglobin (Hb) masih berada dalam batas normal.

Akibatnya, bayi belum tentu menunjukkan tanda-tanda yang jelas sehingga orangtua bisa tidak menyadari bahwa anaknya mulai mengalami kekurangan zat besi.

“Pada tahap awal itu adalah hanya feritin. Kemudian kalau ini kita tidak ketahui, kemudian makanannya juga kurang mengandung besi, berlanjut lagi menjadi defisiensi,” jelas Murti.

Jika tidak diketahui dan ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Pada tahap ini, kekurangan zat besi telah mengganggu pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen.

Karena itu, orangtua tidak seharusnya hanya mengandalkan kondisi fisik bayi sebagai patokan untuk memastikan kecukupan zat besi.

Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan

Mengingat gejala awalnya dapat sulit dikenali, Murti menekankan pentingnya deteksi dini kekurangan zat besi, khususnya selama 1.000 hari pertama kehidupan.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memastikan bayi dan anak mendapatkan asupan zat besi yang sesuai dengan usia serta kebutuhannya. Pemantauan kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi juga diperlukan untuk membantu mengenali potensi kekurangan zat besi sejak awal.

Menurut Murti, upaya tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada orangtua. Pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak terkait juga memiliki peran dalam mendukung pemantauan tumbuh kembang anak serta memastikan kecukupan gizinya.

Dengan deteksi dan penanganan sedini mungkin, kekurangan zat besi diharapkan dapat diketahui sebelum berkembang menjadi anemia defisiensi besi dan menimbulkan risiko lebih lanjut terhadap tumbuh kembang anak. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini