Anggaran MBG Rp270 Triliun Dievaluasi, BGN Akui Angkanya Kemahalan
Salah satu langkah yang ditempuh adalah penghentian sementara distribusi makanan selama masa libur sekolah pada 22 Juni hingga 13 Juli 2026.
Kebijakan tersebut diperkirakan memangkas belanja insentif operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga lebih dari Rp3 triliun.
“Kalau kita melihat angka jumlah SPPG yang telah beroperasi 27.820 dikalikan dengan insentif per hari itu selama 18 hari, maka kita sudah bisa melakukan efisiensi insentif SPPG itu sebesar Rp3.004.560.000, lumayan angkanya ya,” sebutnya.
Tak hanya memangkas biaya operasional, BGN juga mulai menata ulang sasaran penerima manfaat. Hasil evaluasi sementara menunjukkan terdapat puluhan sekolah di Pulau Jawa yang siswanya dinilai memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
Sebanyak 76 sekolah dengan total 39.352 siswa tidak lagi menjadi kelompok prioritas penerima MBG. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk kelompok tersebut direncanakan dialihkan ke wilayah yang dinilai lebih membutuhkan.
Kelompok prioritas baru itu mencakup daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ibu hamil, ibu menyusui, serta balita yang masih menghadapi risiko masalah gizi.
Sementara itu, BGN juga mengungkapkan bahwa anggaran lembaga tersebut pada 2026 telah mengalami koreksi cukup signifikan.
Dari pagu awal Rp268 triliun, nilai anggaran yang tersisa setelah penajaman fiskal kini berada di kisaran Rp228,38 triliun.






Tinggalkan Balasan