KPTS dan BPS Gereja Toraja Sepakat: Jaga Budaya Mappasilaga Tedong dan Komitmen Bersihkan Unsur Negatif
RANTEPAO, TEKAPE.co – Polemik terkait mappasilaga tedong atau adu kerbau, dalam rangkaian adat Rambu Solo’ akhirnya menemui titik terang.
Komunitas Pecinta Tedong Silaga (KPTS) bersama Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja sepakat bahwa kegiatan tersebut harus bebas praktik judi, dan menjaga bersama tradisi budaya tersebut.
Kesepakatan itu dicapai usai kedua belah pihak menggelar pertemuan selama kurang lebih dua jam di Rantepao, Rabu (18/03/2026), menyusul aksi massa yang sempat memanas di Kantor BPS Gereja Toraja.
Ketua BPS Gereja Toraja, Pdt Dr Alfred Yohanes Rantedatu Anggui, M.Th., menyampaikan bahwa ketegangan yang terjadi sebelumnya hanyalah kesalahpahaman.
“Kami sudah duduk bersama sekitar dua jam lebih. Sempat ada ketegangan, tapi dalam pertemuan suasana berubah menjadi hangat, penuh kekeluargaan. Kami mulai menemukan kesepahaman, termasuk menjelaskan fungsi BPS hingga akhirnya tercapai titik temu,” ujarnya.
Alfred menegaskan, pihaknya tetap berkomitmen menjaga kelestarian adat istiadat Toraja, termasuk mappasilaga tedong yang menjadi bagian dari budaya dalam upacara Rambu Solo’.
Ia juga mengakui bahwa kegiatan tersebut memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat, mulai dari peternak hingga pelaku usaha yang bergantung pada perputaran ekonomi di arena tedong silaga.
“Di sana ada perputaran ekonomi. Kita tahu ada penggembala kerbau yang bisa menyekolahkan anaknya dari situ,” jelasnya.
Meski demikian, kedua pihak juga mengakui adanya potensi dampak negatif yang perlu diantisipasi bersama.
“Kita sepakat menjaga budaya tedong silaga, namun juga sepakat menghilangkan praktik judi dan persoalan sosial lainnya. Kita ingin tedong silaga tetap menjadi budaya Toraja yang bersih,” tegas Alfred.
Senada dengan itu, perwakilan KPTS, Diego TR, menyatakan pihaknya menerima dan mendukung hasil kesepakatan tersebut.
“Kami sepakat tedong silaga tetap berjalan, namun harus dibersihkan dari unsur judi, narkoba, maupun hal negatif lainnya di masyarakat,” ungkap Diego.
Dengan adanya kesepakatan ini, kedua pihak berharap polemik yang sempat terjadi dapat diselesaikan secara damai, sekaligus menjadi momentum untuk menjaga nilai budaya Toraja tetap lestari tanpa tercoreng oleh praktik-praktik yang merugikan.
(erlin)






Tinggalkan Balasan