Saat Status Berubah, Rumah Tangga Runtuh: Kisah Supir Palopo-Morowali yang Terancam Kehilangan Istri Setelah Lolos PPPK
DI JALANAN lintas Sulawesi yang panjang dan melelahkan, Jericho (41), nama samaran, menghabiskan sebagian besar hidupnya.
Siang dan malam ia menyetir mobil angkutan umum antar provinsi, rute Palopo-Morowali, menembus hujan, gelap, dan jarak ratusan kilometer demi satu tujuan sederhana: menghidupi keluarganya.
Selama 14 tahun pernikahan, ia percaya rumahnya baik-baik saja.
Namun hidup kadang berubah bukan karena badai besar, melainkan pelan-pelan, nyaris tak terasa, hingga akhirnya semuanya runtuh.
Kisah itu dia ceritakan, saat Jericho bertemu teman lamanya, yang juga wartawan Tekape.co di Toraja, Sabtu 24 Januari 2026.
Istrinya, sebut saja Katalis (43), nama samaran, telah lama bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Luwu.
Hampir satu dekade ia mengabdi dengan status yang tak pasti. Jericho menyaksikan sendiri bagaimana istrinya menunggu kabar pengangkatan, berharap suatu hari nasibnya berubah.
Hari itu akhirnya datang.
Katalis dinyatakan lolos PPPK paruh waktu.
Bagi banyak keluarga, kabar itu seharusnya menjadi awal kehidupan yang lebih tenang. Penghasilan lebih jelas, masa depan lebih terjamin.
Jericho pun ikut bangga. Ia merasa perjuangan mereka selama ini terbayar.
Tapi justru setelah status itu berubah, suasana rumah ikut berubah.
Jarak yang Muncul Diam-diam
Jericho mulai merasakan istrinya berbeda. Komunikasi tak lagi hangat. Percakapan sering berujung emosi. Telepon genggam yang dulu terbuka kini terkunci rapat.
Pertanyaan sederhana seperti “dari mana?” atau “sama siapa?” kerap memicu pertengkaran.
“Bukan soal uang,” tuturnya pelan. “Saya tiap hari kerja di jalan. Yang saya rasakan, dia seperti sudah jauh sebelum bilang mau pisah.”
Di tengah kecurigaan dan ketegangan itu, Jericho mengaku menemukan percakapan yang menurutnya melewati batas kewajaran dengan seorang rekan kerja istrinya.
Dia menduga hubungan tersebut bukan sekadar teman biasa. Ia juga menaruh curiga pada beberapa momen ketika istrinya pulang terlambat atau sulit dihubungi.
Katalis sendiri, menurut penuturan Jericho, sempat mengakui ada kedekatan dengan pria tersebut, namun menyebutnya tidak serius. Tak lama setelah itu, justru permintaan cerai muncul.
Luka yang Tak Terlihat Anak-anak
Di rumah sederhana mereka, ada tiga anak yang kini menjadi perhatian utama Jericho. Ia mengaku tak ingin memperpanjang konflik, tapi juga merasa terpukul.
“Anak tetap anak saya. Itu yang paling saya pikirkan,” katanya.
Sebagai supir travel, hidup Jericho tak pernah mudah. Penghasilannya tergantung jumlah penumpang dan jarak tempuh.
Ia jarang di rumah, tapi merasa semua itu bagian dari tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Kini ia bukan hanya memikirkan nafkah, tapi juga bagaimana menjelaskan kepada anak-anak bahwa keluarga mereka tak lagi utuh.
Ketika Perubahan Status Mengubah Dinamika
Kisah ini bukan semata soal dugaan perselingkuhan atau perceraian. Di baliknya ada cerita tentang perubahan peran, tekanan ekonomi, dan dinamika relasi suami istri ketika salah satu pasangan mengalami lonjakan status sosial atau pekerjaan.
Dalam banyak keluarga, perubahan tersebut bisa menjadi berkah. Namun pada sebagian lain, justru memunculkan jarak, rasa tidak seimbang, atau konflik yang lama terpendam.
Jericho kini hanya berharap proses perpisahan berjalan baik dan anak-anaknya tidak menjadi korban batin berkepanjangan.
Sementara itu, pihak yang disebut dalam cerita ini belum memberikan keterangan resmi.
Di jalanan lintas Sulawesi, mobil travel Jericho masih melaju seperti biasa. Dari luar, tak ada yang tahu beban pikirannya. Penumpang datang dan pergi, tapi kisah di rumahnya kini berjalan ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
(Erlin)



Tinggalkan Balasan