Mahasiswa Blokade Trans Sulawesi di Walenrang Utara Lebih dari Sehari, SPBU Tutup
LUWU, TEKAPE.co – Blokade Jalan Trans Sulawesi di depan SDN 112 Mamara, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, telah berlangsung lebih dari 24 jam.
Aksi dilakukan Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu sejak Jumat (23/1/2026) siang.
Massa menutup jalur utama penghubung Sulawesi itu dengan menebang tiga pohon besar dan membentangkannya di badan jalan.
BACA JUGA: Malam di Pinggir Jalan, Rakyat Luwu Raya Tegaskan Tuntutan Pemekaran
Akibatnya, arus lalu lintas lumpuh. Kemacetan mengular sekitar enam kilometer ke arah selatan dan tiga kilometer ke arah utara.
Ratusan kendaraan, mulai dari mobil pribadi, bus, truk logistik, hingga mobil pengangkut bahan bakar minyak terjebak tanpa kepastian.
Dampaknya merembet ke sektor energi.
Pada Sabtu (24/1/2026), seluruh SPBU di Luwu Utara dilaporkan tidak beroperasi karena pasokan BBM tersendat.
Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu, Alif Nugraha, mengatakan penutupan jalan merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai belum merealisasikan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya.
“Dua tuntutan ini menjadi fokus utama kami selama dua hari aksi,” kata Alif, Sabtu (24/1/2026).
Meski memblokade jalan, massa mengklaim tetap membuka akses terbatas bagi kendaraan darurat, seperti ambulans.
Menurut Alif, tuntutan pemekaran muncul karena lambannya pembangunan dan pelayanan publik di wilayah Luwu Raya.
Ia menilai selama berada di bawah Provinsi Sulawesi Selatan, kawasan itu belum mendapat perhatian optimal, termasuk dalam pengalokasian anggaran sektor ekonomi, kesehatan dan politik.
Ia juga menyebut adanya perlakuan diskriminatif terhadap Wija To Luwu, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Makassar.
“Kami melihat ketimpangan perlakuan dan keterlambatan pembangunan terus berulang,” ujarnya.
Massa menegaskan blokade akan berlanjut hingga pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turun langsung merespons tuntutan mereka.
“Aksi ini tidak berhenti hari ini. Kami menunggu langkah konkret,” kata Alif.
Di sisi lain, para sopir terpaksa bertahan berjam-jam di tengah kemacetan.
“Sejak kemarin kami tertahan. Keluarga menunggu, pekerjaan kami terancam,” ujar Nuri, salah seorang pengemudi.(*)



Tinggalkan Balasan