Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Bupati Delis Temui Wamenkes, Bahas Alat Diagnostik hingga Dokter Spesialis untuk Morut

Bupati Morowali Utara, Delis Julkarson Hehi (kedua dari kanan), saat mengikuti audiensi bersama Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Kamis (24/9/2026). (ist)

JAKARTA, TEKAPE.co – Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, membawa sejumlah kebutuhan sektor kesehatan ke pemerintah pusat.

Bupati Morowali Utara, Delis Julkarson Hehi, MARS, bersama Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido dan sejumlah bupati se-Sulawesi Tengah melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus.

Pertemuan berlangsung di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Kamis (24/9/2026) pagi.

Audiensi tersebut membahas sejumlah persoalan kesehatan yang dihadapi daerah, mulai dari penguatan fasilitas pelayanan kesehatan, kebutuhan tenaga medis hingga percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC).

Bupati Delis hadir bersama Kepala Dinas Kesehatan Morowali Utara, Arif Paskal Pokonda.

Kehadiran kepala daerah bersama jajaran teknis tersebut menjadi bagian dari upaya menyinkronkan kebutuhan di daerah dengan kebijakan dan program Kementerian Kesehatan.

Delis menekankan pentingnya pemerintah pusat melihat kondisi setiap daerah secara spesifik, terutama wilayah yang memiliki tantangan geografis dan akses pelayanan kesehatan.

“Kami ingin memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat di daerah, khususnya wilayah yang memiliki tantangan akses dan geografis, benar-benar masuk dalam perencanaan pemerintah pusat. Karena pelayanan kesehatan tidak bisa disamaratakan tanpa melihat kondisi masing-masing daerah,” kata Delis.

Dorong Percepatan Penanganan TBC

Salah satu pembahasan utama dalam audiensi tersebut adalah percepatan penanggulangan TBC.

Pemerintah pusat mendorong perubahan pola penanganan TBC, dari sebelumnya lebih banyak menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan menjadi penemuan kasus secara aktif.

Caranya melalui pelacakan kontak erat pasien TBC dan pelaksanaan skrining.

Pada 2026, Kementerian Kesehatan menargetkan pelacakan kontak erat pasien TBC dilakukan secara menyeluruh.

Program tersebut dipetakan pada 53.335 lokus yang tersebar di 514 kabupaten/kota dan 38 provinsi.

Pelaksanaannya didukung pemeriksaan rontgen dan tes diagnostik cepat.

Wamenkes Benjamin sebelumnya menegaskan pelacakan kontak erat menjadi bagian penting untuk memutus rantai penularan TBC.

Kontak erat yang belum mengalami sakit dapat diberikan terapi pencegahan, sedangkan mereka yang terdiagnosis TBC segera mendapatkan pengobatan.

Kebutuhan alat diagnostik turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.

Kementerian Kesehatan merencanakan distribusi Genexpert, portable X-ray dan perangkat skrining cepat ke sejumlah daerah.

Distribusi tersebut juga akan dibarengi dukungan operasional serta penguatan tenaga radiografer.

Bagi Morowali Utara yang memiliki wilayah luas dan akses antarkawasan yang tidak selalu mudah, kemampuan diagnosis hingga tingkat pelayanan dasar dinilai penting.

Dengan demikian, waktu penemuan kasus dan penanganan pasien dapat dipersingkat.

Fasilitas Kesehatan hingga Dokter Spesialis

Selain TBC, pemerintah daerah juga menyampaikan kebutuhan terkait fasilitas pelayanan kesehatan.

Persoalan yang dibahas meliputi rehabilitasi fasilitas, penambahan peralatan serta penguatan tenaga kesehatan.

Sejumlah daerah di Sulawesi Tengah juga menyampaikan kebutuhan peningkatan kapasitas puskesmas dan rumah sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini