Tekape.co

Jendela Informasi Kita

BMKG Ungkap Indonesia Mulai Masuk Fase Kekeringan Hidrologis

Ilustrasi kekeringan hidrologis. BMKG menyebut Indonesia mulai bergerak menuju fase kekeringan hidrologis yang ditandai dengan menurunnya debit sungai, waduk, dan sumber air permukaan.

JAKARTA, TEKAPE.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap Indonesia kini mulai memasuki fase kekeringan hidrologis seiring berlanjutnya musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino.

Kondisi ini diperkirakan terus berkembang hingga puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

BMKG sebelumnya memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung selama 10 hingga 21 dasarian di 388 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 47,45 persen wilayah Indonesia.

BACA JUGA: Hari Mangrove Sedunia, IMIP Dukung Penanaman Sejuta Mangrove di 37 Provinsi

Durasi musim kemarau juga diperkirakan lebih panjang dari kondisi normal di 437 ZOM yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto mengatakan, kekeringan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap mulai dari kekeringan meteorologis, pertanian, hidrologis, hingga sosioekonomis.

“Perlu diketahui, kemarau itu memiliki beberapa tingkatan kekeringan, mulai dari kekeringan meteorologis, kekeringan pertanian, nanti akan berlanjut kekeringan hidrologis hingga terakhir adalah kekeringan sosioekonomis,” kata Guswanto, Rabu (29/7/2026).

BACA JUGA: Gandeng Tempo Institute, PT Vale Bekali Jurnalis Keterampilan Investigasi, Tegaskan Komitmen Transparansi

Guswanto menjelaskan, Indonesia telah melewati fase kekeringan meteorologis pada April hingga Juni 2026. Fase tersebut ditandai dengan curah hujan yang berada di bawah normal dalam satu periode musim.

“Kalau pada saat kita berbicara di awal-awal April, Mei, Juni, itu masih kita sampaikan kekeringan meteorologis di mana tingkat curah hujannya di bawah normal dalam satu periode musim,” ujarnya.

Setelah itu, kondisi berkembang menjadi kekeringan pertanian. Pada fase ini, kandungan air di dalam tanah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tanaman sehingga berpotensi menyebabkan tanaman layu, mengalami stres air, hingga gagal panen.

“Kekeringan pertanian itu terjadi ketika kandungan air di dalam tanah sudah tidak cukup lagi mendukung pertumbuhan tanaman. Misalnya tanaman akan layu atau stres air hingga mengalami gagal panen,” jelas Guswanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini