BBM Tembus Rp30 Ribu per Liter di Luwu Timur, Distribusi Tersendat
LUWU TIMUR, TEKAPE.co – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, melonjak tajam setelah pasokan tersendat sejak Jumat (23/1/2026).
Kelangkaan dipicu terhambatnya distribusi mobil tangki Pertamina yang terjebak kemacetan di ruas Jalan Trans Sulawesi.
Akses jalan terputus akibat aksi unjuk rasa yang menuntut pembentukan Daerah Otonomi Baru Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah.
BACA JUGA: Kopilot ATR IAT Dimakamkan di Gowa, Keluarga Kenang Farhan Gunawan
Massa memblokade jalan dengan menebang pohon di sejumlah titik, termasuk di perbatasan Desa Marabuana dan Bosso, Kecamatan Walenrang Utara.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular hingga sekitar 20 kilometer.
Bus, truk logistik dan mobil tangki tertahan, sebagian pengemudi terpaksa beristirahat di bawah kendaraan dengan alas karton.
BACA JUGA: Kebakaran Subuh di Palopo Tewaskan Pemilik Usaha Mebel
Blokade juga terjadi di Jembatan Baliase, Kelurahan Baliase, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara.
Batang pohon ditebang menggunakan chainsaw sehingga arus lalu lintas terhenti sementara.
Warga Kecamatan Tomoni, Luwu Timur, Muh Rusly mengatakan, sejumlah SPBU mulai tutup dan tidak melayani transaksi.
“Di Mangkutana kemarin sempat ada yang menjual Rp40 ribu per liter. Harganya relatif, tapi mahal sekali,” kata dia, Minggu (25/1/2026).
Menurut Rusly, harga BBM jenis Pertalite dan Pertamax di wilayah Malili dilaporkan menembus Rp30 ribu per liter.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM, dan Perindustrian Luwu Timur, Senfry Oktavianus, mengimbau agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi tersebut.
Ia menyebut Pertamina masih mengevaluasi kondisi di lapangan dan berupaya membuka akses distribusi.
“Masih diupayakan agar mobil pengangkut BBM bisa dikecualikan untuk melintas,” ujar Senfry.
Ia mengatakan sekitar 12 mobil tangki Pertamina tertahan di wilayah Kabupaten Luwu Utara.
Berdasarkan koordinasi dengan pihak Pertamina, terdapat sedikitnya lima titik kemacetan yang harus dilalui sebelum pasokan bisa masuk ke Luwu Timur.
“Saya pantau sementara belum terlihat antrean panjang di SPBU di Luwu Timur. Kami terus berkoordinasi dengan camat dan pihak terkait,” kata dia.
Senfry menambahkan, masyarakat memahami situasi aksi unjuk rasa yang berlangsung beberapa hari terakhir.
Namun, ia berharap ada pengecualian bagi kendaraan bersifat darurat.
“Untuk hal-hal yang bersifat emergency, seharusnya bisa didahulukan. BBM sangat penting untuk operasional rumah sakit dan ambulans,” ujarnya.(*)



Tinggalkan Balasan