Apresiasi Aksi Damai Ribuan Etnis Rongkong, Pancai Pao: Informannya Juga Harus Ikut Bertanggungjawab
PALOPO, TEKAPE.co – Aksi damai ribuan etnis Rongkong di Mapolres Palopo mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan, salah satunya dari masyarakat adat Pancai Pao.
Aksi damai itu menuntut penyelesaian laporan dugaan penghinaan etnis Rongkong dalam jurnal ilmiah, yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan.
Mereka melakukan aksi damai menuntut pihak Kepolisian memproses hukum terhadap seorang peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan, bernama Iriani.
BACA JUGA:
VIDEO: Unjuk Rasa Ribuan Etnis Rongkong, Sepakat Jatuhkan Sanksi Adat ke Peneliti BPNB Sulsel
“Kami dari masyarakat adat Pancai Pao mengapresiasi persatuan etnis Rongkong. Ini sebuah kewajaran karena siapa saja pasti marah, jika dirinya, apa lagi sukunya dihina,” ujar Pemegang Mandat Adat Pancai Pao, Abidin Arief To Pallawarukka SH, dalam keterangan tertulisnya, Senin 14 Maret 2022.
Ia mengatakan, beberapa hari sebelum aksi damai dilakukan, dewan adat Pancai Pao melakukan pertemuan internal, terkait penghinaan etnis Rongkong.
“Kami dari adat Pancai Pao ikut merasa tersakiti dengan adanya jurnal tersebut,” katanya.
Sehingga, kata Abidin, hal ini juga harus diperjelas, agar dapat diketahui, apakah penulis yang mengada-ada, ataukah sumber informasinya yang mengada-ada, sehingga kepastian hukumnya harus jelas, agar kedepan sejarah kerajaan Luwu tidak mudah dibolak-balikkan fakta sejarahnya.
“Agar lebih jelas, idealnya jangan cuma penulisnya. Narasumber atau informannya juga harus ikut bertanggungjawab. Sebab tidak mungkin menulis, kalau tidak informasi yang disampaikan informannya,” tandasnya.
Abidin mengatakan, harusnya dalam menuturkan sejarah Kerajaan Luwu, harus pandai membedakan antara darah dan kasta. Sebab hal itu banyak yang tidak bisa membedakan, namun merasa pintar menceritakan sejarah Kerajaan Luwu.
“Rongkong itu suku, dimana pemangkunya bergelar tomakaka. Tentu hal itu menunjukkan jika suku Rongkong punya eksistensi yang bersar dalam Kerajaan Luwu, sejak masa lampau,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kepada para tokoh adat tana Luwu, agar kejadian ini menjadi pelajaran, agar lebih hati-hati dalam menjadi sumber informasi tentang sejarah Kerajaan Luwu. (rin)
Tinggalkan Balasan