Ma’pasonglo’ Jadi Simbol Gotong Royong, Rambu Solo’ Naomi Lotong Tampilkan Keagungan Budaya Toraja
RANTEBUA, TEKAPE.co – Prosesi adat Rambu Solo’ Almarhumah Naomi Lotong di Tongkonan Suka Ne’ Kekek’, Dusun Issong, Lembang Pitung Penanian, Kecamatan Rantebua, Kabupaten Toraja Utara, Rabu (1/7/2026), kembali memperlihatkan kokohnya tradisi dan semangat gotong royong yang masih dijaga masyarakat Toraja.
Ratusan keluarga dan kerabat dari berbagai daerah memadati lokasi upacara untuk mengikuti salah satu tahapan paling sakral, yakni Ma’pasonglo‘, prosesi mengusung jenazah keliling kampung menggunakan keranda adat khas Toraja lalu kembali ke arena upacara adat atau rante.
Nanti di puncak acara rambu solo’ baru kemudian jenazah dibawa ke pemakaman dalam prosesi adat ma’kuburu‘ atau meawa.
Prosesi ma’pasonglo‘ berlangsung semarak. Sorak-sorai para pengusung, teriakan penyemangat, hingga gerakan saling mendorong saat mengarak keranda menjadi ciri khas Ma’pasonglo’.
Tradisi ini bukan bentuk ketidakhormatan kepada mendiang, melainkan simbol kebersamaan masyarakat Toraja dalam memikul duka keluarga.
Sebelum jenazah diusung, seluruh ritual adat dipimpin Parengnge’ atau ketua adat. Seluruh tahapan dijalankan sesuai aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Suasana semakin khidmat dengan iring-iringan tombi, bombongan, bentangan kain merah yang dipegang keluarga, serta kerbau-kerbau yang digiring menuju arena upacara.
Dalam budaya Toraja, kerbau memiliki makna penting sebagai simbol penghormatan terakhir sekaligus mencerminkan strata sosial keluarga yang menggelar Rambu Solo’.
Rangkaian Rambu Solo’ Almarhumah Naomi Lotong berlangsung sejak 25 Juni hingga 6 Juli 2026 dengan tahapan sebagai berikut:
- 25 Juni 2026: Ma’pamate, Ma’pakande, dan Ma’pamate Patane.
- 27 Juni 2026: Massarrin Rompon Sola Mangriu’ Batu, disertai penyembelihan 1 ekor kerbau dan 1 ekor babi.
- 29 Juni 2026: Mantanan Batu Sola Mintu’ Simbuang Na’ Manggaraga Bala’kayan, disertai penyembelihan 1 ekor kerbau dan 1 ekor babi.
- 30 Juni 2026: Ma’pasa’ Tedong dan Ma’palao Rokko Alang, disertai penyembelihan 1 ekor kerbau dan 1 ekor babi.
- 1 Juli 2026: Ma’pasonglo’ Tomate serta Ma Lumba-lumba/Mantarima To’ Rampo, disertai penyembelihan 1 ekor kerbau dan 1 ekor babi.
- 2 Juli 2026: Mantarima To’ Rampo dan Ma’panawa’, disertai penyembelihan 1 ekor kerbau dan 1 ekor babi.
- 3 Juli 2026: Ma’doya Lompo dan Mantunu Tedong Pa’Peambe’, dengan penyembelihan 2 ekor kerbau.
- 4 Juli 2026: Mantunu Tawa To’ Buda.
- – 5 Juli 2026: Ma’ Allo Torroi atau Allo Datunna.
- 6 Juli 2026: Meawa atau Ma’kaburu’, disertai penyembelihan 1 ekor kerbau dan 1 ekor babi.
Secara keseluruhan, Rambu Solo’ Almarhumah Naomi Lotong bukan sekadar prosesi pemakaman adat.
Tradisi ini menjadi cerminan penghormatan kepada leluhur, kuatnya ikatan kekeluargaan, serta semangat gotong royong yang hingga kini tetap hidup di tengah masyarakat Toraja.
Nilai-nilai tersebut menjadikan Rambu Solo’ sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang dikenal hingga mancanegara.
(Erlin)


<


Tinggalkan Balasan