Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Bupati Luwu Jamu Forum Silaturahmi Keraton Nusantara pada Peringatan HJL ke-758 dan HPRL ke-80

LUWU, TEKAPE.co – Pemerintah Kabupaten Luwu menjamu makan siang rombongan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) di Rumah Jabatan Bupati Luwu, Belopa Utara, Kamis, 22 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.

Bupati Luwu Patahudding menyampaikan ucapan selamat datang kepada para raja dan sultan dari berbagai daerah di Nusantara. Ia menyebut kehadiran mereka sebagai kehormatan bagi pemerintah dan masyarakat Luwu.

“Kabupaten Luwu adalah daerah yang memiliki sejarah panjang dan peradaban tua. Luwu merupakan induk dari tiga daerah otonom di Tana Luwu, yakni Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur,” ujar Patahudding.

Menurut dia, Tana Luwu dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Sulawesi. Nilai adat, budaya, dan kearifan lokal masih dijaga dan dihormati masyarakat hingga kini.
“Bagi masyarakat Luwu, adat tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga penuntun dalam kehidupan masa kini dan masa depan,” katanya.

Ia juga memaparkan potensi daerah. Kabupaten Luwu memiliki sekitar 39.916 hektare lahan persawahan dengan komoditas utama padi, kakao, kelapa, dan hortikultura. Pada 2024, sektor pertanian Luwu menyumbang 9,2 persen produksi padi Sulawesi Selatan.

Selain itu, terdapat potensi pertambangan emas, galena, dan pasir besi. Dengan garis pantai sepanjang 123 kilometer, produksi rumput laut pada 2024 mencapai 312.971 ton. Potensi wisata juga mencakup wisata adat, sejarah, pegunungan, sungai, air terjun, hingga pantai.

“Namun lebih dari semua itu, kekuatan terbesar Luwu adalah masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar dalam membangun daerah, menjaga persatuan, serta merawat harmoni antara pemerintah, adat, dan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Patahudding berharap jamuan tersebut menjadi ruang silaturahmi dan dialog, bukan sekadar seremoni.

“Menjadi ruang silaturahmi, dialog, dan kebersamaan secara nasional untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dengan para raja dan sultan se-Nusantara dalam menjaga warisan budaya tanpa meninggalkan jati diri,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Datu Luwu ke-40 Andi Maradang Mackulau Opu To Bau menyematkan pin FSKN kepada Bupati Luwu sebagai simbol penghargaan dan keanggotaan kehormatan.

Ketua Panitia Pelaksana, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, menyampaikan apresiasi atas kesediaan pemerintah daerah menjamu rombongan FSKN.

Acara dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Luwu, Dewan Adat Dua Belas Kedatuan Luwu, para raja dan sultan anggota FSKN, kepala organisasi perangkat daerah, serta tokoh adat.

Kalau mau, saya juga bisa bantu buatkan versi lebih singkat (straight news 5–6 paragraf) atau versi feature untuk rubrik budaya. (hms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini