Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Matano, Ketika Danau Purba Berubah Menjadi Kolam

Prof. Dr. Ir. Jasruddin Daud M. (ist)

Oleh: Prof. Dr. Ir. Jasruddin Daud M.
(Kelahiran Bure, Pesisir Danau Matano, Luwu Timur)

TIDAK dapat dipungkiri bahwa kehadiran PT International Nickel Indonesia (PT Inco) yang kemudian bertransformasi menjadi PT Vale Indonesia Tbk, telah membawa perubahan besar bagi masyarakat di sekitar Danau Matano, Kabupaten Luwu Timur, dan Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia.

Selama puluhan tahun, perusahaan ini telah menjadi salah satu motor penggerak pembangunan kawasan, tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dalam pengembangan sumber daya manusia dan dinamika sosial-budaya masyarakat pesisir danau.

Dari sisi ekonomi, kehadiran industri pertambangan telah membuka lapangan kerja, mendorong tumbuhnya usaha lokal, serta mempercepat pembangunan infrastruktur dasar.

Dari sisi sumber daya manusia, PT Inco/PT Vale berkontribusi melalui pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal sehingga melahirkan generasi yang lebih terampil dan berdaya saing.

Bahkan dalam konteks budaya, interaksi panjang antara perusahaan dan masyarakat telah membentuk tatanan sosial baru yang relatif stabil dan produktif.

Kontribusi tersebut adalah fakta sejarah yang tidak bisa dihapus dan patut diapresiasi secara objektif. Namun demikian, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kebutuhan operasional, muncul dinamika baru dalam pengelolaan Danau Matano, khususnya terkait pengaturan aliran air melalui pintu air.

Dinamika inilah yang hari ini menuntut refleksi bersama, agar keberhasilan ekonomi dan sosial tidak berujung pada degradasi ekologi yang justru mengancam keberlanjutan kawasan itu sendiri.

Danau Matano bukan sekadar danau biasa, tetapi merupakan danau purba, saksi evolusi alam selama jutaan tahun, rumah bagi spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Namun hari ini, sebagaimana diungkapkan oleh Tokoh Lokal Mokole Matano, Hasan Said, Danau Matano tidak lagi berfungsi sebagai danau, melainkan telah berubah menjadi “kolam”.

Pernyataan ini bukan retorika emosional, melainkan kenyataan ekologis yang kini dapat disaksikan dengan mata telanjang: batu-batu karang yang dahulu bersih, kini mulai berlumut, tumbuhan endemik, seperti Tanggulu terselimuti organisme oportunistik, dan batang-batang kayu yang dulu menjadi habitat siput endemik Tylomelania tidak lagi steril sebagaimana mestinya. Fenomena ini adalah tanda awal kerusakan ekosistem danau purba.

Ketika Aliran Alamiah Terhenti

Secara ilmiah, sebuah danau hidup karena sirkulasi air yang alami, ada air yang masuk dan ada air yang keluar secara terus-menerus. Namun saat ini, aliran keluar Danau Matano dikendalikan oleh pintu air yang hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu.

Dalam ilmu limnologi, kondisi ini disebut sebagai impounded lake atau danau yang berfungsi layaknya reservoir (Kolam Besar). Ketika aliran air tidak berlangsung secara kontinu, danau kehilangan kemampuan alaminya untuk “membersihkan diri”.

Wetzel (2001) menegaskan bahwa:
“Lakes depend on natural flushing to maintain low nutrient levels and ecological balance; disruption of outflow alters nutrient cycling and accelerates eutrophication.” (Wetzel, Limnology: Lake and River Ecosystems)

Akibatnya, nutrien seperti fosfat dan nitrat mengendap, memicu pertumbuhan lumut dan alga, dan perlahan menggeser organisme endemik yang berevolusi dalam kondisi air sangat jernih dan miskin nutrisi.

Lumut Bukan Sekadar Lumut

Munculnya lumut di Danau Matano bukan persoalan estetika semata. Dalam ekologi perairan, lumut adalah indikator awal eutrofikasi—tahap awal “penyakit” danau.

Menurut Dodds & Whiles, “Even slight increases in nutrient availability in oligotrophic lakes can cause rapid biological responses, especially algal and periphyton growth.” (Dodds & Whiles, Freshwater Ecology, 2010)

Danau Matano selama jutaan tahun adalah danau oligotrofik ekstrem, sehingga perubahan kecil saja dapat berdampak besar. Spesies seperti ikan Telmatherina dan siput Tylomelania tidak didesain alam untuk hidup di perairan yang “kaya nutrisi”.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Danau Matano berisiko kehilangan keunikan evolusionernya, sesuatu yang tidak dapat dipulihkan dengan teknologi apa pun.

Dari Kepentingan Ekonomi ke Tanggung Jawab Ekologi

Tidak dapat dipungkiri, Danau Matano berada dalam kawasan strategis industri dan energi. Namun kepentingan ekonomi tidak boleh meniadakan hukum alam.

OECD (2015) menyebutkan: “Effective water governance requires adaptive regulation that respects ecological flow requirements, not merely operational efficiency.”

Dengan kata lain, regulasi pengelolaan air harus tunduk pada kebutuhan ekologi, bukan semata kebutuhan operasional.

Saatnya Deregulasi yang Berpihak pada Alam

Kondisi Danau Matano hari ini menuntut keberanian untuk melakukan deregulasi tata kelola hidrologi, diantaranya: Mengubah pola pengoperasian pintu air.

Dari sistem buka-tutup periodik menjadi aliran kecil yang kontinu, menyerupai aliran alami danau.

  1. Menetapkan aliran ekologis minimum (environmental flow)
    Sebagaimana direkomendasikan dalam pengelolaan danau dan sungai internasional (Poff et al., 1997).
  2. Melakukan monitoring kualitas air secara transparan
    Melibatkan akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah.
  3. Menempatkan Danau Matano sebagai Ekosistem Kritis Nasional
    Bukan hanya aset lokal, tetapi warisan dunia.

Menjaga Identitas Danau, Menjaga Masa Depan

Danau Matano bukan hanya sumber air, bukan hanya pemandangan indah, dan bukan sekadar bagian dari sistem industri. Ia adalah identitas ekologis Luwu Timur dan warisan peradaban alam Indonesia.

Jika hari ini Danau Matano dibiarkan menjadi kolam, maka yang hilang bukan hanya kejernihan airnya, tetapi juga kehormatan kita sebagai penjaga alam.

Saatnya memahami apa yang dikatakan oleh Odum (1993): “The first rule of intelligent tinkering is to save all the parts.” (Odum, Ecology and Our Endangered Life-Support Systems).

Danau Matano adalah “bagian” yang tak tergantikan. Menjaganya bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan ekologis.

Selama ini, PT Inco/PT Vale dikenal luas sebagai perusahaan yang memiliki komitmen kuat terhadap pengelolaan lingkungan, khususnya di wilayah tambang.

Praktik reklamasi, rehabilitasi lahan, dan pengelolaan lingkungan pascatambang yang dijalankan PT Vale bahkan sering dijadikan rujukan praktik baik di tingkat nasional.

Namun, dinamika ekologis Danau Matano menunjukkan bahwa tantangan lingkungan tidak hanya berhenti pada area tambang, tetapi juga meluas ke kawasan konservasi perairan yang berada dalam satu sistem ekologi yang sama.

Sejak diberlakukannya sistem pintu air, Danau Matano mengalami perubahan hidrologi yang berdampak langsung pada keseimbangan ekosistemnya. Kondisi ini menuntut pendekatan baru yang lebih spesifik dan terfokus.

Oleh karena itu, sudah saatnya PT Vale meningkatkan level tanggung jawab ekologis dengan membentuk satu unit atau departemen khusus yang menangani perawatan dan pemulihan Danau Matano sama dan sebangun dengan Departemen yang menangani reklamasi pasca tambang.

Departemen ini tidak sekadar bersifat administratif, tetapi berfungsi sebagai pusat pemantauan, perawatan, dan restorasi ekosistem danau secara berkelanjutan—sebagaimana komitmen yang telah lama diterapkan PT Vale di wilayah tambang.

Langkah ini bukan bentuk koreksi atas masa lalu, melainkan evolusi kebijakan lingkungan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan global.

Dengan menempatkan Danau Matano sebagai bagian integral dari tanggung jawab ekologis perusahaan, PT Vale justru akan memperkuat reputasinya sebagai pelaku industri yang tidak hanya berhasil secara ekonomi, tetapi juga visioner dalam menjaga warisan alam bagi generasi masa depan.

Menjaga Danau Matano berarti menjaga keseimbangan antara industri, masyarakat, dan alam, yaitu sebuah keseimbangan yang hanya dapat dicapai melalui keberanian untuk beradaptasi, deregulasi yang berpihak pada ekologi, dan komitmen bersama yang tulus. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini