Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Pencarian Pesawat ATR di Bulusaraung Masuk Hari Ketiga, Basarnas Fokuskan Golden Time 72 Jam

Puing-puing pesawat ATR 42-500 ditemukan tim SAR gabungan. (ist)

PANGKEP, TEKAPE.co – Operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, memasuki hari ketiga, Senin (19/1/2026).

Sebanyak 1.200 personel SAR gabungan dikerahkan untuk mempercepat proses pencarian di tengah medan pegunungan yang terjal dan cuaca yang tidak bersahabat.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026).

BACA JUGA: Gubernur Sulsel dan Menhub Evaluasi Operasi Pencarian Pesawat ATR 42-500

Lokasi serpihan pesawat ditemukan di koordinat 04°55’48” Lintang Selatan dan 119°44’52” Bujur Timur, di kawasan pegunungan Bulusaraung.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya Mohammad Syafii mengatakan operasi saat ini berada pada fase golden time atau waktu emas, yakni 72 jam pertama sejak kejadian.

Dalam periode tersebut, peluang menemukan korban dalam kondisi selamat masih terbuka.

“Dalam kurun waktu ini, kami berharap ada keajaiban. Selama belum benar-benar menemukan seluruh korban, kami akan terus mengejar waktu yang ada,” kata Syafii saat meninjau Posko SAR di Kecamatan Balocci.

Syafii menyebut lokasi kecelakaan berhasil diidentifikasi kurang dari 24 jam setelah pesawat dilaporkan hilang. Namun, proses evakuasi menghadapi tantangan besar.

Medan yang ekstrem serta cuaca yang cepat berubah menghambat pergerakan tim di lapangan maupun operasi udara.

“Hambatan utama adalah cuaca dan kondisi medan. Kami fokus mengerahkan seluruh kekuatan untuk menemukan dan mengevakuasi korban,” ujarnya.

Sejumlah bagian pesawat telah ditemukan di sekitar lokasi. Temuan tersebut akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk dianalisis.

Meski demikian, Syafii menegaskan prioritas utama tetap pada pencarian korban.

Tim SAR juga dilaporkan telah menemukan korban di lokasi, namun proses pemindahan ke rumah sakit rujukan yang ditetapkan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri belum dapat dilakukan secara maksimal karena keterbatasan akses dan cuaca.

Dalam operasi ini, Basarnas memaksimalkan penggunaan unsur udara.

Pesawat Boeing dikerahkan untuk air surveillance pada pagi hari, sementara helikopter digunakan untuk menurunkan personel penyelamat dengan kemampuan khusus ke titik-titik sulit dijangkau.

Polda Sulawesi Selatan dan Basarnas turut berkoordinasi untuk menambah armada helikopter, termasuk mendatangkan bantuan dari Surabaya.

Basarnas juga membuka kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca guna mempercepat proses pencarian dan evakuasi.

Terkait status korban, Syafii menegaskan penetapannya menjadi kewenangan DVI Mabes Polri. Adapun penyelidikan penyebab kecelakaan sepenuhnya berada di bawah KNKT.

“Kami menjalankan tugas operasi SAR sebagai perpanjangan pemerintah, berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, dan seluruh potensi SAR,” katanya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan pihaknya telah memeriksa dokumen kelaikan pesawat yang mengangkut 10 penumpang tersebut.

Ia memastikan pesawat dinyatakan layak terbang sebelum kejadian.

“Setiap pesawat yang beroperasi harus memenuhi syarat kelaikan. Dokumen pesawat ini telah kami periksa dan dinyatakan memenuhi standar,” kata Dudy.

Namun, Kementerian Perhubungan belum dapat menyimpulkan penyebab kecelakaan.

Menurut Dudy, hasil analisis black box oleh KNKT akan menjadi dasar penentuan faktor teknis jatuhnya pesawat.

Dudy juga menjelaskan bahwa pesawat ATR 42-500 tersebut menjalankan penerbangan surveillance atau pengawasan untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Pesawat milik maskapai Indonesia Air Transport (IAT) itu digunakan untuk memantau wilayah perairan Indonesia dalam rangka tugas rutin pengawasan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini