Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Jalur MRT Kembangan–Balaraja Mulai Dikaji, Fokus Kelembagaan hingga Pembiayaan

Direktur PT MRT Jakarta Tuhiyat (tengah) bersama perwakilan pengembang menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait kajian pembangunan jalur MRT lintas timur–barat fase 2 Kembangan–Balaraja di Balai Kota Jakarta, Rabu (4/1/2026). (ist)

JAKARTA, TEKAPE.co – PT MRT Jakarta memulai kajian pembangunan jalur MRT lintas timur–barat fase kedua yang direncanakan menghubungkan Kembangan, Jakarta Barat, hingga Balaraja, Banten.

Rute yang diproyeksikan membentang sekitar 30 kilometer ini disiapkan bersama sejumlah pengembang yang wilayahnya akan dilintasi proyek tersebut.

Langkah awal kajian ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT MRT Jakarta dan para pengembang di Balai Kota Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Direktur PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, kesepakatan itu menjadi pijakan awal sebelum pemerintah dan perusahaan menentukan arah pembangunan.

“Yang ditandatangani hari ini adalah dasar untuk melakukan kajian terlebih dahulu. Prosesnya diperkirakan memakan waktu sekitar delapan hingga sepuluh bulan,” kata Tuhiyat

Ia menyebut hasil studi tersebut akan menjadi rujukan utama dalam menetapkan kebijakan lanjutan proyek MRT lintas timur–barat fase kedua.

Dalam kajian itu, PT MRT Jakarta bersama mitra pengembang akan memfokuskan pembahasan pada tiga aspek utama, kelembagaan, pembiayaan, serta teknis, termasuk penentuan trase dan infrastruktur pendukung.

“Setelah kajian selesai, barulah arah kebijakan dan tahapan berikutnya ditentukan,” ujar Tuhiyat.

Hingga kini, besaran kebutuhan anggaran maupun jadwal pembangunan jalur Kembangan–Balaraja belum dapat dipastikan.

Menurut Tuhiyat, kedua hal tersebut sepenuhnya bergantung pada hasil kajian yang sedang berjalan.

Koridor timur–barat, kata dia, dipandang strategis karena menghubungkan kawasan permukiman, sentra industri, serta pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah Bekasi, Jakarta, dan Banten.

Pemerintah berharap studi ini dapat membantu koordinasi lintas sektor, khususnya di tingkat pemerintah pusat.

“Studi ini diharapkan mendukung Kementerian Perhubungan dalam perencanaan, baik dari sisi kelembagaan maupun pembiayaan, untuk pengembangan jalur timur–barat fase kedua dari Kembangan menuju Balaraja,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini