HUT ke-77 Jemaat GKST Efrata Peonea, Bupati Delis Ajak Jaga Persatuan dan Persaudaraan
Perjalanan Jemaat GKST Efrata Peonea memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perpindahan masyarakat dari dua kampung, yakni Matangkoro dan Pandiri.
Berdasarkan sejarah yang disampaikan panitia, masyarakat Kampung Matangkoro ketika itu menghadapi keterbatasan lahan pertanian.
Sementara masyarakat Kampung Pandiri mengalami persoalan ketersediaan air, terutama ketika musim kemarau.
Kondisi tersebut kemudian mendorong para tokoh dari kedua kampung untuk bermusyawarah dan menyepakati perpindahan serta bergabung di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Peonea.
Perjalanan kehidupan jemaat kemudian terus berkembang.
Pada 17 September 1949, rumah gereja pertama di Peonea mulai digunakan sebagai tempat ibadah.
Momentum tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Jemaat GKST Efrata Peonea hingga peringatan HUT ke-77 tahun ini.
Dari tempat ibadah sederhana yang dibangun dengan keterbatasan, jemaat terus berkembang dengan mengandalkan semangat gotong royong, musyawarah dan kebersamaan.
Pertama Kali HUT Jemaat Dipisahkan
Ketua Majelis Jemaat GKST Efrata Peonea, Pdt. Yet Muliana Sanggona mengatakan, perayaan HUT ke-77 memiliki makna tersendiri bagi jemaat.
Pasalnya, tahun ini menjadi kali pertama HUT Jemaat GKST Efrata Peonea dilaksanakan secara terpisah dari perayaan HUT Desa Peonea.
“Dalam rapat jemaat tahun pelayanan 2026, diputuskan bahwa mulai tahun ini hari ulang tahun jemaat berdiri sendiri. Puji Tuhan, hari ini kita bisa melaksanakannya,” ujar Pdt. Muliana.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga jemaat yang telah terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan HUT.





Tinggalkan Balasan