GERD Tak Sekadar Gangguan Lambung, Faktor Psikologis Turut Memicu
JAKARTA, TEKAPE.co – Gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dipersepsikan sebagai gangguan lambung akibat pola makan yang tidak teratur.
Namun, dokter menyebut, penyakit ini juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis, terutama stres dan kecemasan.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Ari Fahrial Syam mengatakan, GERD merupakan penyakit kompleks yang tidak dapat dipandang sebagai keluhan pencernaan biasa.
Peningkatan produksi asam lambung, menurut dia, dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk keadaan mental penderitanya.
“GERD berbeda dengan sakit maag biasa,” kata Ari, Selasa, (27/1/2026).
Ia menjelaskan, GERD terjadi ketika asam lambung mengalir naik ke kerongkongan.
Dalam kondisi normal, asam lambung seharusnya tetap berada di dalam lambung dan tidak mengalir balik ke organ lain.
Ari menyebut, produksi asam lambung yang berlebihan bisa dipicu oleh pola makan yang kurang tepat serta faktor psikologis.
“Stres dapat meningkatkan produksi asam lambung,” ujarnya.
Menurut Ari, hubungan antara GERD dan gangguan mental bersifat timbal balik.
Stres dan kecemasan dapat memperberat gejala refluks, sementara keluhan GERD yang muncul justru dapat memperparah kondisi psikologis pasien.
Sebagian penderita, kata dia, merasakan sensasi seperti tercekik di dada hingga sulit bernapas saat asam lambung naik.
Kondisi ini kerap memicu kepanikan karena pasien mengira mengalami gangguan jantung atau pernapasan.
Rasa tidak nyaman tersebut kemudian membentuk lingkaran masalah.
Kecemasan meningkat, asam lambung kembali naik dan keluhan GERD menjadi semakin berat.
Karena itu, Ari menegaskan penanganan GERD tidak cukup hanya berfokus pada lambung.
Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kondisi fisik dan psikologis pasien.
“Penanganannya harus paripurna, mengontrol kecemasan sekaligus mengendalikan asam lambung,” katanya.
Mengutip Healthline, GERD dan kecemasan dapat menimbulkan sejumlah gejala yang kerap tumpang tindih, seperti mual, sakit perut, sensasi benjolan di tenggorokan, serta gangguan tidur.
Meski demikian, Ari menyebut keduanya juga memiliki perbedaan gejala yang perlu dicermati agar penanganannya tepat.
Selain faktor psikologis, gaya hidup turut berperan besar dalam memicu GERD.
Kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol dapat memperburuk produksi asam lambung dan meningkatkan risiko refluks.
“Kalau berat badan berlebih harus dikontrol. Jika merokok atau mengonsumsi alkohol, sebaiknya dihentikan,” ujarnya.
GERD dapat dialami oleh semua kelompok usia.
Meski lebih banyak ditemukan pada usia produktif 20 hingga 40 tahun, Ari menyebut kasus pada anak-anak juga mulai meningkat akibat pola makan yang kurang tepat.
Untuk memastikan diagnosis, pasien yang keluhannya tidak membaik dengan pengobatan standar disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti endoskopi atau pH metri, guna mengetahui apakah terjadi peningkatan asam lambung yang berlebihan.
Ari menegaskan, GERD merupakan penyakit yang dapat dikendalikan selama ditangani secara tepat dan tidak hanya berfokus pada satu aspek saja.(*)



Tinggalkan Balasan