Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Di Balik Derasnya Air Ketika Hujan, Drainase di Siatas Barita Lama Sudah Dikeluhkan Masyarakat

Kondisi drainase di sekitar Hotel Angkasa, Desa Simorangkir Julu, Kecamatan Siatas Barita, Taput, yang dilaporkan mengalami kerusakan dan dikhawatirkan mengganggu aliran air saat hujan deras, Jumat (11/9/2026), (Dok: Abednego Manalu)

TAPUT, TEKAPE.co – Kekhawatiran terhadap kondisi drainase di Desa Simorangkir Julu, Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), belum kunjung mereda.

Saluran air yang berada di kawasan Hotel Angkasa itu disebut mengalami kerusakan pada bagian gorong-gorong. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu aliran air, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.

Keluarga pemilik Hotel Angkasa, Lenny Siregar, mengatakan air dari kawasan yang lebih tinggi mengalir deras saat hujan. Namun, aliran tersebut disebut tidak lagi sepenuhnya terkendali karena terdapat bagian gorong-gorong yang mengalami keretakan.

BACA JUGA: Lahan 2 Hektar Terbakar di Bahomakmur, Polsek Bahodopi Langsung Turun Tangan

Air yang keluar dari jalurnya kemudian berpotensi menggenangi kawasan sekitar. Dalam kondisi tertentu, derasnya air juga dikhawatirkan mengikis tanah di sekitar drainase dan badan jalan.

“Kalau hujan deras, air dari atas sangat deras. Karena gorong-gorongnya sudah beretakan, alirannya tidak seperti semestinya lagi. Kami khawatir lama-lama bisa menyebabkan longsor atau bahkan jalan ambruk,” ujar Lenny.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena drainase bukan hanya berfungsi sebagai saluran pembuangan air, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan badan jalan dan lingkungan di sekitarnya.

BACA JUGA: Pernah Saling Perang, Warga Munte dan Karondang Serahkan 31 Senpira Papporo ke Polisi

Pemilik Hotel Angkasa, Samuel Hutabarat, mengatakan persoalan tersebut bukan baru disampaikan kepada pemerintah.

Menurut Samuel, pihaknya telah mengajukan permohonan penanganan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara sejak lebih dari satu tahun lalu. Pengajuan juga disampaikan melalui pemerintah desa agar diteruskan kepada Pemkab Taput.

Namun, hingga Jumat (11/9/2026), Samuel mengaku belum melihat adanya penanganan terhadap kondisi drainase tersebut.

“Sudah berulang kali kami sampaikan. Bahkan sudah lebih dari setahun, tetapi belum ada tindak lanjut di lapangan,” katanya.

Kepala Desa Simorangkir Julu, Gerhana Simorangkir, membenarkan bahwa pengajuan mengenai kondisi drainase tersebut telah diterima dan disampaikan.

Gerhana mengatakan persoalan itu memang telah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih menunggu perhatian serta tindak lanjut dari pemerintah daerah.

Keluhan tersebut muncul ketika pemerintah daerah tengah mendorong pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Taput.

Berdasarkan data dalam Rancangan Perubahan APBD Kabupaten Tapanuli Utara Tahun Anggaran 2026 yang menjadi rujukan pemberitaan, belanja modal disebut meningkat dari sekitar Rp72,068 miliar menjadi Rp146,651 miliar.

Kondisi itu membuat masyarakat berharap pembangunan tidak hanya diarahkan pada proyek infrastruktur baru, tetapi juga menyentuh pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur yang sudah mengalami kerusakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini