Tekape.co

Jendela Informasi Kita

HMI yang Saya Pahami

Iqra Muslim Said. (foto: ist)

Iqra Muslim Said
Fungsionaris Badko HMI Sulawesi Selatan

OPINI, TEKAPE.co – “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.”

Saya menulis refleksi ini pada tengah malam yang sunyi, di sudut ruangan, ditemani cahaya lampu yang redup dan lembar-lembar buku Prof. Agussalim Sitompul yang terbuka di hadapan saya. Di tengah keheningan itu, ketika sebagian besar orang mungkin telah terlelap, saya justru kembali terjaga oleh pertanyaan-pertanyaan tentang perjalanan dan pemahaman saya terhadap organisasi kemahasiswaan yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ada perasaan haru, bangga, sekaligus gelisah yang bercampur menjadi satu. Sebab, bagi saya, HMI bukan sekadar nama organisasi kemahasiswaan yang pernah saya masuki, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah membentuk cara saya berpikir, merasa, dan memandang dunia.

Saya pertama kali mengenal HMI ketika mengikuti Basic Training HMI Angkatan 167 di sebuah aula SMA Negeri 10 Kota Makassar pada tahun 2018. Saat itu, saya datang sebagai seseorang yang masih cupu dan belum memahami banyak hal. Saya belum tahu apa itu HMI, bagaimana HMI bekerja sebagai organisasi, bagaimana tradisi intelektualnya berkembang, atau bagaimana proses kaderisasi di dalamnya dapat membentuk watak dan cara berpikir seseorang. Saya hanya diarahkan oleh senior jurusan, dengan membawa rasa ingin tahu, sedikit keberanian, dan keinginan sederhana untuk belajar. Namun, saya tidak pernah menyangka bahwa langkah menuju ruang Basic Training itu akan menjadi pintu yang mengubah perjalanan hidup saya. Dari sanalah saya mulai mengenal HMI, gagasan, nilai, pergulatan, dan dinamikanya.

Dari proses itulah saya mulai memahami HMI bukan hanya sebagai organisasi tempat mahasiswa berhimpun, berdiskusi, atau belajar menjalankan kepengurusan. Bagi saya, HMI adalah ruang tempat seseorang menemukan cara berpikirnya, menguji keyakinannya, dan perlahan-lahan belajar memahami persoalan keislaman dan keindonesiaan. Di dalam HMI, saya menemukan gagasan tentang keislaman yang tidak seharusnya berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus menjelma menjadi keberpihakan kepada kemanusiaan. Saya juga memahami bahwa keindonesiaan bukan sekadar identitas yang melekat pada diri, melainkan tanggung jawab untuk hadir dan mengambil bagian dalam persoalan masyarakat. Karena itu, ketika berbicara tentang HMI, saya tidak hanya sedang berbicara tentang organisasi yang saya kenal sejak Basic Training, tetapi juga tentang cita-cita, idealisme, dan harapan yang seharusnya terus dijaga.

Namun, semakin lama saya terlibat dan mengenal HMI hingga detik ini, semakin saya menyadari bahwa antara HMI yang dicita-citakan dan HMI yang ada hari ini terkadang terdapat jarak yang tidak kecil. Jarak itulah yang membuat saya membaca dan merenungi pemikiran Prof. Agussalim Sitompul melalui bukunya, 44 Indikator Kemunduran HMI. Bagi saya, buku tersebut bukan sekadar kritik terhadap HMI pada zamannya. Buku itu seperti cermin yang sengaja diletakkan di hadapan organisasi agar HMI berani melihat wajahnya sendiri, termasuk luka, kelemahan, dan kekurangan yang mungkin selama ini berusaha disembunyikan. Persoalannya kemudian bukan hanya apakah 44 indikator tersebut masih relevan, melainkan mengapa beberapa persoalan yang telah diperingatkan sejak lama masih terus kita bicarakan hingga hari ini. Mengapa peringatan itu belum sepenuhnya menjadi pelajaran? Mengapa kegelisahan yang sama masih terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Saya melihat salah satu persoalan yang patut direnungkan adalah kaderisasi. HMI sering membanggakan tradisi perkaderannya, dan memang sejarah telah menunjukkan bahwa banyak tokoh besar lahir dari rahim organisasi ini, seperti Lafran Pane, Nurcholish Madjid, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Anies Baswedan, dan banyak tokoh lainnya. Namun, kebanggaan terhadap sejarah tidak serta-merta membuktikan bahwa kaderisasi hari ini berjalan secara ideal.

Bagi saya, kaderisasi seharusnya tidak berhenti pada kelulusan seorang kader dari sebuah forum atau bertambahnya jumlah anggota. Kaderisasi seharusnya melahirkan kader yang mampu membaca keadaan, mempertanyakan ketidakadilan, menguasai pengetahuan, memiliki integritas, dan berani mempertanggungjawabkan pikirannya. Kaderisasi seharusnya membentuk manusia yang tidak mudah tergiur oleh kekuasaan, tidak mudah tunduk pada keadaan, dan tidak kehilangan keberanian untuk berdiri di pihak yang diyakininya benar. Jika kader hanya sibuk mengejar jabatan organisasi, bahkan kekuasaan, tetapi kehilangan kebiasaan membaca dan berdiskusi, saya kira ada sesuatu yang perlahan-lahan sedang hilang dari ruh perkaderan kita.

Saya juga memahami bahwa dinamika internal tidak dapat dihindari dalam tubuh HMI. Hal itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan, sebab organisasi sebesar HMI tentu memiliki perbedaan pendapat, kepentingan, gagasan, bahkan pilihan. Perbedaan adalah hal yang wajar, bahkan dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan kedewasaan. Namun, bagi saya, dinamika organisasi menjadi persoalan ketika gagasan tidak lagi dianggap penting dan jabatan justru menjadi daya tarik utama, ketika kedekatan lebih menentukan daripada kapasitas, dan ketika perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman.

Seharusnya, organisasi yang menjadi sekolah kepemimpinan tidak berubah menjadi arena perebutan pengaruh. Yang lebih menyedihkan, ketika hal semacam itu dianggap biasa, kader-kader muda dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa keberhasilan di HMI tidak ditentukan oleh kedalaman berpikir dan ketulusan mengabdi, melainkan oleh kemampuan membangun jaringan dan memenangkan pertarungan. Saya tidak mengatakan bahwa semua kader seperti itu. Saya hanya melihat adanya gejala yang patut dikritisi sebelum berkembang menjadi kebiasaan, sebelum sesuatu yang keliru dianggap sebagai kewajaran.

Hal lain yang tidak kalah mengkhawatirkan bagi saya adalah ketika kritik terhadap HMI dianggap sebagai bentuk ketidakloyalan. Saya justru memahami loyalitas secara berbeda. Mencintai HMI tidak berarti membenarkan seluruh perilakunya. Mencintai HMI berarti memiliki keberanian untuk menjaga marwahnya, termasuk dengan mengatakan bahwa ada sesuatu yang keliru. Justru karena merasa memiliki, seseorang seharusnya tidak tega membiarkan organisasi berjalan tanpa arah.

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang tidak pernah dikritik, melainkan organisasi yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan kemampuan untuk melakukan koreksi. Dalam konteks inilah saya melihat kritik Agussalim Sitompul menjadi penting: bukan untuk mempermalukan HMI, bukan untuk meruntuhkan kebanggaannya, melainkan untuk mengingatkan bahwa sebuah organisasi dapat kehilangan arah ketika terlalu nyaman dengan kebesaran masa lalunya. Sejarah yang besar seharusnya menjadi tanggung jawab, bukan alasan untuk berhenti berbenah.

HMI juga sedang berhadapan dengan zaman yang berbeda. Persoalan mahasiswa hari ini tidak seluruhnya sama dengan persoalan mahasiswa beberapa dekade lalu. Ruang gerakan telah berubah. Perdebatan tidak hanya berlangsung di ruang komisariat, warung kopi, atau forum-forum diskusi, tetapi juga di ruang digital yang bergerak begitu cepat. Pengetahuan tersedia dalam jumlah yang melimpah, tetapi kedalaman berpikir justru menjadi tantangan yang semakin berat.

Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, kader dapat dengan mudah mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami maknanya. Dalam keadaan seperti ini, HMI tidak cukup hanya mengulang narasi tentang kejayaan masa lalu. HMI harus mampu membuktikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan para pendahulunya masih hidup, masih relevan, dan masih dapat digunakan untuk membaca persoalan zaman sekarang. Jika tidak, HMI hanya akan menjadi nama besar yang perlahan-lahan kehilangan daya hidupnya.

Karena itu, ketika saya mengatakan “HMI yang saya pahami”, saya tidak sedang berbicara tentang HMI yang sempurna. Saya memahami HMI sebagai organisasi yang saya kenal sejak Basic Training HMI Angkatan 167 di SMA Negeri 10 Kota Makassar pada tahun 2018, sebuah organisasi yang memiliki sejarah besar sekaligus pekerjaan rumah yang besar. Saya memahami HMI sebagai ruang yang pernah melahirkan banyak pemikir dan pemimpin, tetapi pada saat yang sama harus terus bertanya apakah tradisi intelektual itu masih hidup di dalam diri para kadernya. Saya memahami HMI sebagai organisasi yang tidak boleh takut terhadap kritik, sebab kritik bukan selalu tanda kebencian. Kadang-kadang, kritik justru lahir dari kegelisahan seseorang yang masih peduli, dari hati yang belum rela melihat sesuatu yang dicintainya berjalan menjauh dari cita-cita awalnya.

Melalui pengalaman masuk dan bertahan di HMI hingga hari ini, saya melihat bahwa organisasi ini memiliki banyak potensi, tetapi juga menghadapi berbagai persoalan yang tidak boleh diabaikan. Saya melihat HMI sebagai organisasi yang masih penting bagi kehidupan mahasiswa dan bangsa, tetapi relevansinya tidak akan bertahan hanya karena nama besar dan sejarah panjang. HMI harus terus membuktikan dirinya melalui kualitas kader, keberanian berpikir, kedalaman intelektual, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. HMI harus hadir bukan hanya ketika ada momentum, bukan hanya ketika ada panggung, dan bukan hanya ketika ada kepentingan. HMI harus hadir dalam kerja-kerja sunyi yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Pada akhirnya, saya tidak ingin melihat HMI hanya sebagai organisasi yang besar karena sejarahnya. Saya ingin melihat HMI besar karena gagasannya, kuat karena kadernya, dan dihormati karena kontribusinya. Bagi saya, 44 Indikator Kemunduran HMI tidak seharusnya dibaca sebagai daftar kesalahan yang kemudian kita hafalkan, tetapi sebagai rangkaian pertanyaan yang harus kita jawab melalui keadaan HMI hari ini. Jika sebagian persoalan lama masih kita temukan, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar membicarakan kemunduran, melainkan keberanian untuk melakukan koreksi, meskipun koreksi itu menyakitkan dan memaksa kita mengakui kelemahan sendiri.

Sebab, HMI yang saya pahami bukanlah HMI yang selalu merasa benar. HMI yang saya pahami adalah HMI yang berani menundukkan kesombongannya, membuka ruang bagi kritik, dan bertanya dengan jujur kepada dirinya sendiri: masihkah kita menjadi apa yang dahulu kita cita-citakan? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini