Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Bentrokan Pecah Saat Eksekusi Lahan di Makassar, Polisi Dihujani Batu hingga Diserang Busur

Bentrokan terjadi saat polisi mengawal proses pembacaan putusan eksekusi lahan sengketa di Kampung Ce'de, Jalan Daeng Tata 3, Kecamatan Tamalate, Makassar, Kamis (10/9/2026). Polisi disebut dihujani batu, petasan, hingga anak panah busur oleh massa yang menolak eksekusi. (ist)

MAKASSAR, TEKAPE.co – Proses eksekusi lahan di Kampung Ce’de, Jalan Daeng Tata 3, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, berujung bentrokan antara warga dan aparat kepolisian.

Kericuhan terjadi saat polisi mengawal pembacaan putusan pengadilan terkait sengketa lahan, Kamis (10/9/2026) siang.

Situasi memanas setelah sekelompok warga yang menolak eksekusi melakukan perlawanan.

BACA JUGA: 9 Talang Tambang Dibongkar, Puluhan Excavator Masih Nongkrong di Lokasi PETI Luwu

Dalam video yang beredar, sejumlah personel kepolisian terlihat mundur saat mendapat serangan lemparan batu dari arah massa.

Akses Jalan Daeng Tata 3 menuju Jalan Abdul Kadir pun ikut lumpuh.

Pantauan sekitar pukul 12.30 WITA menunjukkan ruas jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan.

BACA JUGA: 634 Pelajar SMP di Bulukumba Dicekoki Edukasi Bahaya Narkoba, Polisi Beri Pesan Tegas

Sebuah alat berat bahkan tertahan di badan jalan. Akses juga ditutup menggunakan blokade bambu.

Lokasi kericuhan berada sekitar empat kilometer dari Mapolsek Tamalate di Jalan Danau Tanjung Bunga dan sekitar satu kilometer dari kawasan Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Kapolsek Tamalate Kompol Idris membenarkan bentrokan tersebut.

Namun, ia meluruskan informasi mengenai seorang anggota polisi yang terlihat dibopong dalam foto yang beredar.

Menurut Idris, personel tersebut bukan mengalami luka akibat terkena lemparan batu.

Polisi itu disebut hampir kehilangan kesadaran setelah menghirup gas air mata.

“Tidak ada (kena lemparan batu), tidak ada. Cuma jatuh, terhirup gas air mata, langsung pusing,” ujar Kompol Idris.

Idris juga membenarkan adanya momen ketika personel kepolisian terlihat dipukul mundur oleh massa.

Awalnya, sebanyak 150 personel diterjunkan untuk mengamankan proses pembacaan putusan eksekusi.

Jumlah tersebut, kata Idris, pada awalnya dinilai masih sebanding dengan massa yang menolak pelaksanaan eksekusi.

“Pertama, kita prediksinya memang sedikit. Jadi kita berusaha untuk maju. Namun mereka memulai melempar, kita bertahan,” terang Idris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini