Seminar Budaya di Luwu Telusuri Jejak Sawerigading dan Warisan I La Galigo
LUWU, TEKAPE.co – Jejak Sawerigading dan warisan budaya dalam naskah I La Galigo menjadi bahasan utama dalam Seminar Budaya bertajuk “Menelusuri Jejak Sawerigading, Menyatukan Warisan Budaya Luwu” di Aula Andi Kambo, Kabupaten Luwu, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pekan Budaya Kabupaten Luwu yang digelar untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya Luwu sekaligus memperkuat identitas budaya daerah, terutama di kalangan generasi muda. Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Luwu.
Sejumlah tokoh adat dan pemerhati budaya hadir dalam seminar tersebut. Mereka antara lain Andi Syaifuddin Kaddiraja Opu To Sattiaraja (Maddika Bua), Andi Saddakati Arsyad Opu To Padali (Patunru Kedatuan Luwu), H. Andi Saddawero Kira Opu To Mennenungeng (Maddika Ponrang), dan drh. Syamsul Hilal Ramsah selaku penggiat budaya.
Peserta seminar berasal dari kalangan siswa dan siswi sejumlah SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Luwu. Kegiatan tersebut juga dihadiri para undangan serta jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Luwu.
Kepala Bidang Budaya dan Pariwisata Hendra, yang merupakan pihak penyelenggara, mengatakan seminar tersebut merupakan salah satu rangkaian Pekan Budaya. Sebelumnya, kegiatan serupa telah diisi dengan Karnaval Budaya tingkat SD dan pidato bahasa daerah.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara berupaya memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya Luwu kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Sawerigading dan Warisan I La Galigo
Dalam seminar, Sawerigading dibahas sebagai salah satu tokoh penting dalam tradisi I La Galigo, naskah epik yang dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia.
Sawerigading digambarkan sebagai sosok pengembara yang menjadi bagian penting dari narasi perjalanan, pencarian jodoh, serta nilai-nilai kehidupan dalam khazanah budaya Bugis-Luwu.
Selain kisah Sawerigading, seminar membahas I La Galigo sebagai sumber pengetahuan mengenai budaya, sejarah, dan peradaban. Naskah tersebut dinilai memuat pesan moral serta identitas lokal yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.
Penyelenggara menyampaikan apresiasi kepada para narasumber, penggiat budaya, dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan seminar.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan budaya Luwu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman. (hms)





Tinggalkan Balasan