Batang Pohon Dibentangkan di Jembatan Baliase, Aksi Provinsi Luwu Raya Memanas
LUWU UTARA, TEKAPE.co – Ratusan warga memblokade Jalan Trans Sulawesi di Jembatan Baliase, Kelurahan Baliase, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Jumat (23/1/2026).
Aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Luwu ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-80 itu melumpuhkan total arus lalu lintas dari dan menuju Palopo–Masamba.
Sejak siang, massa membakar ban di kedua sisi jembatan dan menghentikan dua truk yang kemudian dijadikan panggung orasi.
BACA JUGA: Makkasiwiang di Kedatuan Luwu, Pemkot Palopo Perkuat Silaturahmi Antardaerah
Spanduk bertuliskan “Provinsi Luwu Raya Harga Mati” dibentangkan di tengah kerumunan sebagai penegasan tuntutan utama.
Sekitar tiga jam setelah berorasi, demonstran menumbangkan batang pohon berukuran besar menggunakan gergaji mesin milik warga setempat.
Batang tersebut dibentangkan melintang di badan jalan, membuat jalur Trans Sulawesi tak dapat dilalui kendaraan dari kedua arah.
BACA JUGA: Ketua DPRD Luwu Utara Tegaskan Dukungan Total DOB Luwu Raya, Singgung Janji Negara ke Tana Luwu
Koordinator lapangan aksi, Iansyah, menyatakan massa hanya membawa satu agenda, yakni mendorong pemekaran wilayah dengan membentuk Provinsi Luwu Raya dari Sulawesi Selatan.
“Ini bentuk kekecewaan kami terhadap Pemerintah Provinsi. Kami ingin pemerintah pusat melihat keseriusan tuntutan ini,” kata Iansyah.
Ia menegaskan penutupan jalan akan terus dilakukan sampai aspirasi tersebut ditindaklanjuti.
Seorang warga Masamba, Akbar, menyebut aksi ini sebagai tekanan politik bagi para elite di Tana Luwu.
Ia mendesak kepala daerah serta wakil rakyat di tingkat pusat dan daerah menyatakan sikap terbuka mendukung pembentukan provinsi baru.
“Kami ingin ada pernyataan resmi, baik tertulis maupun melalui media, dari para pemimpin di Tana Luwu,” ujarnya.
Akbar juga mengajak warga Luwu di perantauan ikut berkontribusi secara finansial untuk mendukung proses pemekaran. M
enurut dia, dukungan publik menjadi kunci agar aspirasi tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat.
Selain itu, ia menyerukan aktivis di wilayah Luwu melakukan langkah lanjutan untuk memperkuat tekanan politik.
“Kami minta ada aksi yang lebih besar agar pemerintah daerah dan pusat benar-benar memberi perhatian serius,” katanya.
Hingga sore hari, arus lalu lintas di ruas Trans Sulawesi masih terhenti akibat batang pohon yang melintang di jembatan.
Aparat keamanan terlihat berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi situasi berkembang.(*)



Tinggalkan Balasan