oleh

Peringati Haul ke-10 Gus Dur, GUSDURian Palopo Gelar Dialog Budaya

PALOPO, TEKAPE. co – Jaringan GUSDURian Kota Palopo menggelar Dialog Budaya dalam rangka memperingati Haul ke-10 Gus Dur di Gedung NU, Balandai, Kota Palopo. Minggu, 29 Desember 2019.

Pada dialog ini, satu narasumber, DR Irfan Hasanuddin memaparkan gagasan-gagasan Gus Dur di Pesantren, NU dan Indonesia, begitupun setelah sepulangnya dari Timur Tengah.

DR Irfan mengatakan bahwa Gus Dur adalah sosok yang sangat identik dengan kearifan lokal. Ide-idenya selalu tentang kemausiaan.

“Salah satu pandangan Gus Dur soal Islam yang bagi beliau, Islam yang mesti diterapkan di Indonesia adalah Islam yang Indonesia. Artinya Islam yang tidak mempertentangkan budaya-budaya leluhur yang baik,” papar DR Irfan.

Tambanya, di sisi lain, aspek-aspek kemanusiaan juga selalu menjadi bingkai pemikiran-pemikiran Gus Dur.

“Begitu juga soal kebangsaan. Bagi Gus Dur, Pancasila itu adalah sesuatu yang sudah final, dan sudah sangat mewakili nilai keislaman. Bahkan mewakili nilai-nilai yang terdapat pada agama lain. Demokrasi yang beliau ciptakan semasa menjabat adalah demokrasi yang ramah terhadap budaya dan tradisi,” tambahnya.

Narasumber kedua juga pada kesempatannya memaparkan bagaimana sosok Gus Dur bersikap saat menjabat Presiden RI ke-4 dan setelah lengser dari jabatannya. Dimana kita ketahui bahwa Gus Dur saat itu dianggap sebagai tokoh di NU, sekaligus sebagai Presiden.

Narasumber, dalam hal ini Pendeta Lambang Mandi Tandi Pare mengatakan selama Gus Dur  menjabat sebagai Presiden, tanpa melepas ciri khasnya sebagai santri NU, terdapat sangat banyak perubahan yang terjadi di bangsa ini. Meskipun masa jabatannya tidak sampai dua tahun.

“Gus Dur sangat menghargai perbedaan, dan selalu membela kaum minoritas. Contohnya saja semasa Ia menjabat, nama Irian Jaya diganti menjadi Papua, dan bendera bintang kejora dibolehkan berkibar. Bukan mendukung pemisahan Papua dengan Indonesia, tapi Gus Dur menganggap bendera bintang kejora itu adalah sebuah simbol kebudayaan rakyat Papua,” ungkapnya.

Pada peringatan Haul Gus Dur ini, penggerak GUSDURian Palopo menyiapkan beberapa sesi acara. Pertama melakukan tahlilan dan yasinan, setelah itu, pemutaran film pendek tentang Gus Dur, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan terakhir baru masuk sesi dialog.

Kegiatan ini dihadiri oleh para tamu undangan, Ahmadiyah, NU, Ansor, PMII, IKA PMDS dan juga Hadir Ketua KPU Luwu, yang merupakan bagian dari orang-orang yang mencintai sosok Gus Dur. []

Komentar