oleh

OPINI: Teori Konspirasi Covid-19 dan Fakta Kapitalisme yang Merusak

Oleh: Muh. Nur Fikran
(Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar)

MENGAWALI tulisan kali ini, saya ingin mengungkapkan kegelisahan saya melalui sebuah lirik lagu, yang saya kira lirik lagu ini sangat mewakili kegelisahan dan kegundahan saya dan mungkin kebanyakan masyarakat saat ini.

Saya pernah mendengar sebuah lagu dengan liriknya yang berseloroh dengan kalimat.

“Lebih hina mana, menjual diri atau menjual nasib rakyatnya…?”

Lirik lagu yang sangat skeptis nan absurd ini sebetulnya mengilustrasikan bagaimana dinamika kehidupan manusia, atau lebih tepatnya dinamika politik yang berlangsung di dunia, dan bilkhususnya, di Indonesia saat ini.

Apatahlagi, dalam masa pagebluk Covid-19 yang menurut penerawangan orang-orang saat ini pemerintah yang merupakan elit politik dan secara parsial menjadi penentu kebijakan negara terhadap nasib masyarakat kelihatan ngos-ngosan dan tampak ‘ambigu’ dalam menangani wabah virus yang ujug-ujug muncul ke permukaan dan langsung menetapkan statusnya sebagai bencana kategori pandemi.

Dengan status pandemi ini, tentunya butuh langkah penanganan yang serius dan aksi nyata karena menyangkut hajat hidup orang banyak yang terdampak efek Covid-19, seperti ekonomi nasional yang ambruk, ketahanan pangan yang tunggang langgang dan kerentanan sosial yang semakin menjadi-jadi.

Seiring dengan realitas yang “luntang-lantung” tersebut, maka muncul gejolak berupa keluh kesah dan protes dari sebagian besar masyarakat, akibat dari sikap dan tindakan pemerintah yang irasional dan kelihatan tidak begitu mengindahkan saran dan masukan dari para akademisi dan praktisi yang dalam kata sederhana “ingin membantu negara”.

Seiring dengan peristiwa tersebut, maka menyeruaklah fenomena teori konspirasi di kalangan publik, yang menurut sebagian orang teori konspirasi tersebut muncul sebagai respon atas ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah, yang tidak transparan dalam memberikan hasil riset dan memaparkan data terkini terkait Covid-19 kepada publik.

Akhirnya, kemunculan fenomena teori konspirasi ini langsung menjadi trending topik dan dibahas begitu seksi akhir-akhir ini.

Namun demikian, sebagai seseorang yang masih meyakini sains ilmiah, tentunya saya tidak meyakini bahwa Covid-19 itu dikapitalisasi menurut narasi yang dipaparkan teori konspirasi. Dimana versi tersebut menarasikan bahwasanya China atau AS menjadi pelaku utama dan menjadi dalang di balik pandemi Covid-19 yang merugikan banyak orang di seluruh dunia.

Dalilnya, Covid-19 ini dibuat dan sengaja disebarluaskan oleh negara China dan atau AS ke setiap negara, agar nantinya ketika kasus Covid-19 sudah membludak, maka vaksin akan dijual dengan harga yang mahal. Seolah-olah dikatakan bahwa Covid-19 ini bisa dipelihara dan dijinakkan begitu saja, seperti hewan peliharaan tanpa adanya anti vaksin.

Saya lebih meyakini bahwa kapitalisme sebagai instrumen ekonomi politik kaum borjuislah yang menyebabkan virus sebagai makhluk non manusia (baca: patogen) yang pada awalnya hidup berdampingan bersama manusia dengan damai, namun karena habitatnya seperti hutan tereksploitasi atau lebih tepatnya di eksploitasi oleh aktivitas industri sehingga “menjadikan virus berbalik melawan manusia”.

Argumentasi ini dalilnya telah terbukti secara ilmiah dan riil yaitu adanya riwayat historis mengenai kemunculan virus beserta hasil penelitian yang menyatakan bahwa patogen (baca: virus) terus bermutasi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang terus berubah dikarenakan dibabat habisnya hutan sebagai habitat aslinya.

Fakta lain mengatakan bahwa kecenderungan manusia yang terus-menerus memproduksi barang secara berlebihan atau surplus produksi dan konsumsi seperti keinginan manusia untuk memproduksi dan mengkonsumsi hal-hal baru yang tidak di lakukan sebelum nya. Contohnya, produksi dan konsumsi dalam hal makanan.

Manusia selalu ingin menikmati (memproduksi) dan mencicipi (menkonsumsi) makanan yang lain dan baru sehingga terjadilah aktivitas perburuan hewan-hewan langka untuk di perjual belikan dengan tidak memerhatikan sertifikasi atau protokol kesehatan berupa apakah hewan ini telah di akomodasi dan layak secara medis serta kesehatan untuk di makan atau tidak.

Poin yang sederhana tersebut tentunya diabaikan begitu saja oleh manusia karena keserakahan dan proses labelisasi kapitalisme yang sangat mendukung apapun yang mampu untuk dikapitalisasi sebagai jalur untuk akumulasi kapitalnya.

Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, yaitu dalam rumus kapitalisme tidak di kenal adanya aturan moral atau norma serta rasionalitas humanis, kapitalisme hanya menggunakan pendekatan matematika dengan hukum positif sebagai landasan teorinya sehingga implikasinya adalah kapitalisme hanya berfokus pada orientasi logika pasarnya yaitu bagaimana proses akumulasi kapital terus berlangsung apapun caranya bahkan jika cara yang ditempuh adalah dengan mereduksi beberapa hukum dan regulasi yang berlaku.

Para borjuis akan melakukan lobi dan negosiasi serta konsiliasi agar hukum yang ada di revisi menjadi menjadi hukum yang positif dan regulasi yang berlaku agar dilakukan deregulasi.

Hal tersebut sangatlah mungkin terjadi dalam tatanan kehidupan dunia saat ini, dimana politik yang awalnya menjadi instrumen manusia menuju hidup yang sesuai dengan prinsip demokrasi berubah menjadi sebuah gelanggang pertarungan hidup kaum proletar dan pertaruhan uang kaum borjuis di dalamnya.

Dimana dalam politik yang bersifat premanisme dan kapitalisme tersebut norma, etika dan moral yang menjadi hukum komunal tidak di indahkan sama sekali. Yang terjadi malah di labelisasinya indikator hukum tersebut.

Selain labelisasi yang menjadi strategi kaum borjuis dalam melanggengkan akumulasi kapital nya. Maka di kenal juga istilah idealisasi. Yaitu sebuah mekanisme pembenaran (dalih) bahwa kapitalisme tidaklah absurd atau mengeksploitasi lingkungan dan manusia.

Proses idealisasi tersebut dapat diidentifikasi dengan adanya penggabungan aliran di ranah politik praktis seperti adanya nama partai demokrasi, partai sosialis, partai sosialis liberal, partai republik, partai nasionalis, partai buruh dan sebagainya. Yang ke semua partai tersebut dalam manifesto dan AD/ART nya mencantumkan sikap dan haluan politik yang sederhananya “mendukung dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat”.

Idealisasi ideologi politik tersebut sebetulnya tidak terlepas dari catatan dan pengalaman sejarah yang mengajarkan kepada umat manusia dan terkhususnya kaum borjuis tentang betapa buruknya sistem kapitalisme (liberalisme) atau kebebasan tanpa batas dan mekanisme pasar yang menggunakan logika ekonomi dan hukum positif versi mereka yang telah berlangsung sejak era sains (tradisi rasionalitas dan keilmuan) atau sejak revolusi borjuis bergulir di barat (Eropa).

Kaum borjuis menyadari bahwa kapitalisme (liberalisme) yang menjadi instrumen dan legitimasi setiap negara untuk membangun perekonomian nasional dengan industri sebagai objeknya bukan lagi pertanian telah mendapat banyak kritikan bahkan perlawanan dari kaum proletar dikarenakan sistem ekonomi politik tersebut dinilai memiliki celah yang begitu buruk dibalik hingar-bingar pembangunan atau proses industrialisasinya.

Celah yang buruk dari sistem kapitalisme (liberalisme) tersebut penjabarannya ialah semakin massif pembangunan atau proses industrialisasi berlangsung maka gap (baca: kesenjangan) dan gini rasio (baca: ketimpangan) antara kaum borjuis dan kaum proletar akan semakin menganga (lebar).

Dengan proses industrialisasi, kekayaan ekonomis dari kaum borjuis akan semakin terakumulasi sebanyak-banyaknya dan kesengsaraan kaum proletar dari segi ekonomi sosial akan semakin menjadi-jadi sehingga kasus kemiskinan, busung lapar atau stunting dan kasus-kasus sosial masyarakat menengah kebawah yang bersinggungan dengan kesehatan dan ekonomi terus-menerus meningkat seiring dengan perkembangan zaman yang sangat terikat dan tergantung pada proses industrialisasi atau perkembangan industri (baca: revolusi industri).

Dari argumen yang telah saya paparkan diatas maka kita mendapatkan satu titik terang tentang fenomena teori konspirasi dan kaitannya dengan Pandemi Covid-19 saat ini. Yaitu bahwasannya Covid-19 bukanlah suatu konspirasi dari negara China ataupun AS melainkan mereka para kapitalis dunia (baca: kaum borjuis) sejak krisis ekonomi tahun 2008 telah mengalami fase yang sulit sepanjang sejarah berlangsungnya kapitalisme sebagai ideologi tunggal dunia saat ini.

Kapitalisme seolah seperti terjebak dalam jebakannya sendiri karena secara aktual strategi ekonomi politik yang telah di usung oleh para kaum borjuis, kini secara tidak langsung juga telah dianut kaum proletar atau negara miskin yang aliran politik nya tidak sama dengan kaum borjuis di seluruh dunia (idealisasi).

Sebutlah negara seperti Vietnam, China, Rusia, Bolivia, Brazil, Iran, Venezuela, India dan seterusnya yang jika sistem pemerintahan negara tersebut diidentifikasi maka kita akan mendapati bahwa aliran politik atau haluan politik negara tersebut adalah condong ke sosialisme namun jika sistem ekonominya ditilik maka hampir-hampir saja menyerupai sistem ekonomi negara-negara imperialis seperti AS dan Inggris yaitu sistem ekonomi yang bersifat kapitalistik.

Kembali ke pembahasan virus; kejadian tersebut (baca: sejarah perkembangan virus) awalnya menyebabkan kekacauan bagi tatanan kehidupan manusia pada era yang dimana sains baru muncul dan masih dalam perkembangan yang prematur.

Namun karena kejadian tersebut tidak lantas menjadikan manusia jerah. Justru karena kejadian tersebut akhirnya sains mendapatkan momentum untuk semakin meningkatkan keabsahan nya. Sehingga di era milenium ini sains telah berkembang pesat dengan spesialisasi seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetika dan seterusnya.

Dan fakta lain bahwa sains telah berkembang pesat tersebut tidak luput dari keterlibatan kaum borjuis yang telah menaungi perkembangan sains karena tentunya setiap penilitian membutuhkan kucuran dana yang hanya dimiliki kaum borjuis.

Manuver kaum borjuis dengan modal dan kekuasaannya yang terus mendukung sains agar berkembang sesuai dengan rancangan kapitalisme yaitu pembangunan dan komersialisasi di seluruh sektor kehidupan termasuk mengkapitalisasi sains dan ilmu yang berlandaskan pada hukum positif yang di idealisasi dari pengetahuan manusia dan menyingkirkan hukum adat yang komunal.

Implikasinya, pada akhirnya menjadikan kapitalisme terus memiliki kompatibilitas baru untuk tetap menjaga statusnya sebagai moda transportasi berjalan nya tatanan kehidupan dunia.

Menurut literatur saya, dikatakan bahwa di pertengahan abad 20 manusia atau lebih tepatnya kaum borjuis telah memikirkan bagaimana menjadikan virus yang membabi buta menyerang manusia ini agar dijadikan sebagai lahan garapan baru dari proses kelanjutan kapitalisme, yaitu proses industrialisasi tatanan kehidupan yang berkelanjutan dimana revolusi industri telah diproyeksikan menuju ke 5.0, dengan kecerdasan buatan seperti robot dan komputer serta rekayasa genetika, seperti vaksin sebagai komoditas dagang dunia yang teraktual dengan indikasi bahwa hal tersebut hanya mampu di produksi oleh kaum borjuis dengan para saintisnya.

Sehingga menjadikan manusia bersaing dalam tatanan kehidupan yang serba kapitalis dengan perdagangan dan akumulasi kapital yang teraktual sebagai instrumen utama menggantikan pertanian dan pertukaran yang seimbang dengan hukum komunalnya.

Maka konsekuensi dari tatanan kehidupan dunia yang seperti itu akan melahirkan persaingan yang tak ada batasnya sehingga yang tak mampu bersaing otomatis akan tersingkir atau mati dalam kehidupan ini.

Pada intinya yang mau saya bilang adalah virus memang nyata adanya dan bukan dibuat-buat oleh manusia karena sebetulnya virus juga adalah makhluk hidup yang perkembangbiakan nya (baca: mutasinya) lebih cepat dibanding manusia namun virus punya kelemahan yaitu vaksin.

Dan karena manusia telah mengetahui hal tersebut melalui riset dan perkembangan sains juga ditambah fakta bahwa komoditas dagang perang seperti senjata dan nuklir tidak relevan lagi dengan tatanan dunia saat ini untuk di jadikan perdagangan utama dalam mendongkrak perekonomian kapitalis global maka para borjuis memikirkan ulang tentang bagaimana mekanisme proses akumulasi kapital nya dan jawabannya ada pada perkembangan sains didukung proses industrialisasi yang terus berlangsung hingga saat ini.

Kapitalisme yang telah mencapai klimaksnya dan sedikit lagi menemui kehancurannya tetap saja di paksakan dalam tatanan kehidupan manusia. Sekalipun kenyataan telah mengemuka bahwa kapitalisme sebagai ideologi tunggal dunia yang absah saat ini tidak memiliki relevansi atau kecocokan dengan konsepsi pemberdayaan masyarakat dan proyeksi pembangunan berkelanjutan seperti melakukan reboisasi dan mencegah deforestasi, pembalakan liar atau kasus pengrusakan alam lainnya. Karena singkatnya kapitalisme hanya menggunakan dua kata dalam prosesnya, ekspansi dan eksploitasi.

Seperti kata Karl Marx, “Semua fakta dan pribadi sejarah dunia yang hebat terjadi dua kali sebagaimana adanya. Satu kali terjadi sebagai tragedi, yang lain sebagai lelucon.” (*)

Billahi Fii Sabilil Haq
Fastabiqul Khairat

Komentar

Berita Terkait