Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Ketika Dinding Menjadi Ruang Bersama, Dosen Arsitektur UNM Kembangkan Mural Kolaboratif

Sekolah Cendikia Berseri Makassar terlibat dalam kegiatan Pengembangan Seni Mural Kolaboratif. Kegiatan ini menjadikan proses mewarnai mural sebagai ruang interaksi dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah. (ist)

MAKASSAR, TEKAPE.co – Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Negeri Makassar (UNM) mengembangkan seni mural kolaboratif di Sekolah Cendikia Berseri, Makassar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat dengan memanfaatkan seni mural sebagai media penataan lingkungan sekaligus membangun interaksi sosial di lingkungan sekolah.

Pengembangan mural difokuskan pada sejumlah area sekolah yang dinilai masih polos dan kusam. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan karena area-area itu memiliki pengaruh visual yang cukup besar terhadap citra lingkungan sekolah.

Melalui intervensi mural, lingkungan sekolah diharapkan tidak hanya menjadi lebih menarik secara visual, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih ceria dan inspiratif. Pada saat yang sama, proses pembuatannya dirancang untuk mendorong keterlibatan warga sekolah.

Keterlibatan mitra menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Pihak Sekolah Cendikia Berseri memberikan dukungan berupa akses air dan listrik selama proses pengerjaan mural.

Sekolah juga mengoordinasikan keterlibatan orang tua siswa dalam sesi mewarnai bersama yang dilaksanakan pada Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan tersebut membuat proses penciptaan mural tidak sekadar menjadi pemasangan karya seni pada dinding sekolah. Siswa, orang tua, guru, dan pihak sekolah turut menjadi bagian dari proses kreatif tersebut.

Tim dosen yang terlibat berasal dari Program Studi Arsitektur UNM. Salah satu kelompok terdiri dari Dr.techn. Ar. Andi Abidah, S.T., M.T., IAI., Alexander Adrian Saragi, S.T., M.T., Agung Alif Pratama Kappi, S.T., M.R.K., dan Yusaumi Ramadhanti Fitri Taufik, S.T., M.Des.

Partisipasi berbagai unsur komunitas sekolah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki atau sense of belonging terhadap karya sekaligus ruang yang dihasilkan.

Rasa memiliki dinilai penting untuk mendorong warga sekolah ikut menjaga dan merawat mural. Pendekatan tersebut sekaligus diharapkan menjadi langkah preventif terhadap potensi vandalisme.

Lebih dari sekadar memperbaiki tampilan lingkungan, kegiatan mural juga diarahkan untuk membuka ruang komunikasi antarwarga sekolah. Proses mewarnai bersama menjadi sarana untuk mempertemukan siswa, orang tua, guru, dan pengelola sekolah dalam suasana yang informal dan kreatif.

Interaksi tersebut diharapkan dapat membantu memecah kebekuan komunikasi serta memperkuat kohesi sosial di lingkungan sekolah. Dengan demikian, ruang sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang interaksi bersama.

Keberlanjutan pemanfaatan ruang mural juga menjadi perhatian pihak sekolah. Area yang telah dikembangkan kini dimanfaatkan sebagai ruang interaksi rutin, wadah bercerita, sekaligus panggung ekspresi bagi warga sekolah.

Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan mural tidak berhenti pada perubahan visual dinding sekolah. Ruang yang dihasilkan kemudian berkembang menjadi bagian dari aktivitas keseharian dan ekosistem ruang belajar.

Melalui kegiatan Pengembangan Seni Mural Kolaboratif, dosen Arsitektur UNM mendorong pendekatan desain yang tidak hanya berorientasi pada kualitas fisik ruang, tetapi juga memperhatikan hubungan sosial yang terbentuk di dalamnya.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, siswa, dan orang tua diharapkan dapat terus dikembangkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ceria, inspiratif, partisipatif, serta memiliki rasa kepemilikan bersama. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini