Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Kekeringan Mulai Meluas, PMI Jatim Pastikan Distribusi Air Bersih di Jember Berjalan Optimal

Relawan PMI Kabupaten Jember mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki ke tandon warga di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Selasa (14/7/2026), untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau. (ist)

JEMBER, TEKAPE.co – Dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Salah satu wilayah yang mengalami krisis air bersih adalah Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, sehingga membutuhkan bantuan distribusi air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI).

Upaya penanganan yang dilakukan PMI Jember mendapat perhatian langsung dari PMI Provinsi Jawa Timur.

BACA JUGA: Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 Bangun Gerakan Seni Berbasis Lingkungan di Jember

Pada Selasa (14/7/2026), Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edi Purwinarto, bersama Amin Istighfarin meninjau lokasi untuk memantau penyaluran air bersih sekaligus memastikan bantuan diterima warga yang membutuhkan.

Di lokasi, rombongan menyaksikan relawan PMI Kabupaten Jember mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki berkapasitas 5.000 liter.

Air kemudian dialirkan ke enam tandon yang telah disiapkan di lingkungan warga dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA: Satgas ITR Tertibkan Tambang Gunung Sadeng, Sejumlah Perusahaan Masih Menunggak Pajak dan Bermasalah Izin

Sejak penyaluran perdana pada 2 Juli 2026, PMI Kabupaten Jember telah enam kali mengirimkan bantuan air bersih ke Dusun Bunder.

Hingga distribusi terakhir, sebanyak 29.975 liter air bersih telah disalurkan kepada 66 kepala keluarga atau 158 jiwa yang terdampak kekeringan.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edi Purwinarto mengatakan, kondisi kekeringan diperkirakan masih akan berlangsung seiring dampak El Nino yang menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang.

“Informasi yang kami peroleh menunjukkan dampak El Nino mulai terasa sejak Juli. Puncaknya diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga Oktober dan bahkan berpotensi berlanjut sampai awal 2027. Karena itu kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini