oleh

Hama Asal Amerika Serang Tanaman Jagung di Luwu utara, Mahasiswa Unanda Berikan Penyuluhan

MALANGKE, TEKAPE.co – Beberapa pekan terakhir, petani jagung di Luwu utara diresahkan oleh serangan hama ulat grayak Fall Armyworm (FAW) yang berasal dari Amerika Tengah.

Petani jagung di Desa Limbong Wara, Kecamatan Malangke Barat, mengaku sudah berkali-kali melakukan penyemprotan pestisida kimia, namun populasi FAW di lapangan justru semakin meningkat.

Menjawab keresahan tersebut, mahasiswa KKN Unanda posko Desa Limbong Wara, Kecamatan Malangke Barat, Luwu Utara, melakukan penyuluhan pertanian, di Aula desa Limbong Wara, Sabtu 23 November 2019.

Hadir sebagai narasumber dalam penyuluhan itu, Sunaryo Syam SP MSi, sebagai perwakilan dari Fakultas Pertanian Unanda.

Pemateri menjelaskan, sebaran dari hama FAW, biologi, dan perilakunnya, hingga strategi dan rekomendasi pengendaliannya.

“Spesies ulat ini sudah sejak lama menjadi permasalahan utama di Benua Amerika. Dikenal dengan nama Spodoptera frugiperda atau Fall Armyworm (FAW). Namun, sejak tahun 2016 menyebar ke Afrika dan tidak lama kemudian meluas hingga ke India,” jelasnya.

Pada awal tahun 2019, lanjut dia, hama ini sampai ke China, Thailand hingga Indonesia. Di Indonesia sendiri pertama kali ditemukan di Sumatra dan beberapa daerah di Pulau Jawa. Saat ini hama tersebut bisa ditemukan hampir di seluruh kecamatan Luwu Utara.

“Untuk mengenali FAW ini, tidak begitu sulit. Salah satu ciri khasnya yaitu pada bagian kepala ulat terdapat motif berbentuk huruf ‘Y’ terbalik yang membedakannya dengan ulat grayak spesies lain,” terang Sunaryo syam.

Sementara untuk rekomendasi pengendalian, alumni Ilmu Serangga IPB ini mengatakan, jika tingkat serangan di lapangan rendah, sebaiknya hindari penggunaan insektisida kimia. Sebab tanaman jagung cukup toleran terhadap kerusakan daun.

Pengunaan insektisida kimia dapat memicu terjadinya resistensi atau kekebalan hama terhadap racun, serta dapat membunuh musuh alami dari ulat grayak tersebut, sehingga populasi hama di lapangan justru dapat semakin meningkat.

Sunaryo menyarankan, agar pengendalian hama ini tetap menerapkan konsep pengendalian hama secara terpadu (PHT).

Salah satu yang dapat dilakukan petani, misalnya melakukan pengendalian sedini mungkin, dengan cara mengumpulkan kelompok telur dan larva untuk dimusnahkan.

Kegiatan penyuluhan ini juga mengundang narasumber dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Utara, yang diwakili Risman SP MP bersama tim.

Para narasumber membahas tentang pentingnya kelembagaan petani dalam menjawab segala permasalahan pertanian yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, kelompok tani di Desa Limbong Wara akan terus dilakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusianya.

Kepala Desa Limbung Wara, Andi Mahmuddin, menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber yang hadir, serta apresiasi kepada Mahasiswa KKN Unanda yang telah mengadakan kegiatan penyuluhan.

Mahmuddin mengajak warganya membangun komitmen bersama untuk serius mengembangkan pertanian.

“Kita punya dana desa, uang itu bukan uang saya. Kita sama-sama manfaatkan untuk memajukan pertanian di desa kita ini,” ujar Andi Mahmuddin. (rilis)

Komentar

Berita Terkait