Bakar Puluhan Bambu, Warga Karre Penanian Torut Lestarikan Tradisi Ma’piong Sambut Pesta Panen
TORAJA UTARA, TEKAPE.co – Aroma santan yang berpadu dengan wangi daun pisang dan asap kayu memenuhi udara di Kampung Karre Penanian, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, Jumat (10/7/2026) sore.
Di halaman rumah-rumah warga, puluhan batang bambu tersusun rapi di atas bara api, menandai dimulainya tradisi ma’piong, sebuah warisan kuliner yang selalu hadir dalam perayaan pesta panen.
Suasana sore itu terasa begitu hangat. Warga dari berbagai kalangan berkumpul sambil mengawasi bambu-bambu yang perlahan menghitam karena dibakar.
Sesekali terdengar canda dan tawa, mencerminkan rasa syukur atas hasil panen padi yang kembali melimpah tahun ini.
Bagi masyarakat Karre Penanian, ma’piong bukan sekadar memasak makanan tradisional. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, sekaligus ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta atas rezeki yang diberikan melalui hasil sawah.
Kegiatan membakar bambu berisi beras ketan ini memang lazim dilakukan pada momen-momen istimewa, seperti pesta panen, pesta pernikahan, maupun acara syukuran keluarga. Namun, perayaan pesta panen tahunan menjadi salah satu momen paling dinantikan masyarakat.
Salah seorang warga, Luther Palimbu, yang akrab disapa Ne’ Dika, mengatakan tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih terus dipertahankan.
“Bukan juga kewajiban, namun kalau ada kesempatan bakar pa’piong, apa salahnya. Ini salah satu bentuk ungkapan syukur yang dirayakan setiap tahunnya,” ujarnya, kepada Tekape.co.
Di balik cita rasa pa’piong yang gurih, terdapat proses pembuatan yang membutuhkan kesabaran. Beras ketan terlebih dahulu direndam semalaman agar teksturnya lebih lembut.
Setelah ditiriskan, beras dicampur dengan santan sebelum dimasukkan ke dalam bambu yang telah dialasi daun pisang.
Bambu kemudian disusun di atas bara api dan dipanggang selama sekitar dua hingga tiga jam. Selama proses pembakaran, bambu harus terus diputar agar panas merata, sehingga beras ketan matang sempurna tanpa gosong.
Ketika bambu dibelah, kepulan uap hangat langsung keluar membawa aroma khas perpaduan bambu, santan, dan daun pisang. Inilah yang membuat pa’piong atau lemmang dalam tradisi Bugis, memiliki cita rasa yang sulit ditemukan pada teknik memasak lainnya.
Bagi masyarakat Toraja, makanan tradisional ini bukan hanya soal rasa. Setiap bambu yang dibakar menyimpan nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ma’piong di Karre Penanian tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya Toraja.
Melalui pesta panen tahunan, masyarakat tidak hanya merayakan keberhasilan bercocok tanam, tetapi juga memastikan warisan kuliner leluhur terus dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (erlin)





Tinggalkan Balasan