Melindungi Satwa Endemik untuk Keberlangsungan Kehidupan Alam dan Masyarakat
LUWU UTARA, TEKAPE.co – Pulau Sulawesi menjadi salah satu pulau besar di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, unik, dan endemik. Hal ini karena Pulau Sulawesi tidak pernah menyatu dengan benua Asia dan Australia yang mengapitnya.
Salah satu satwa endemik Sulawesi yaitu Anoa. Anoa hanya terdapat di daratan utama Sulawesi dan Buton. Ada dua jenis Anoa yaitu Anoa dataran rendah Bubalus Depressicornis dan Anoa gunung Bubalus Quarlesi.
Abdul Haris Mustari dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, Anoa sejenis sapi kerdil, hidup di hutan tropis Sulawesi dengan variasi habitat mulai dari ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah sampai ekosistem hutan pegunungan bawah dan pegunungan atas.
Topografi keberadaan anoa juga sangat berat bahkan tergolong ekstrem dengan ketinggian 0-2.500 mdpl, kadang sampai pada 3.000 mdpl.
“Anoa menghuni Sulawesi lebih dari 4 juta tahun yang lalu. Ada 23 nama daerah dalam penyebutan anoa di seluruh Sulawesi, yang menggambarkan keanakaragaman bahasa, budaya, dan keanekaragaman hayati di Sulawesi,” jelas Haris pada kegiatan workshop dengan tema ‘Tudang Sipulung: Rancang Bangun & Desain Kolaboratif Pelestarian Ekosistem Hutan Pegunungan Quarlesi, Administrasi Kabupaten Luwu Utara’ pada 15 dan 16 November 2022 di Aula La Galigo, Kantor Bupati Luwu Utara, Masamba.
Haris menambahkan bahwa Luwu Utara memegang peranan penting untuk melindungi keanekeragaman hayati, sosial, budaya, dan ekonomi yang mempertimbangkan aspek ekologi (green economy) untuk kepentingan pembangunan jangka panjang bagi Luwu Utara pada khususnya dan Sulawesi pada umumnya.
Lanjut Haris ” anoa dikenal di Sulawesi juga menjadi spesies maskot, spesies kunci, spesies payung, dan spesies bendera. Saat orang mendengar nama anoa, ingatan akan tertuju ke Pulau Sulawesi. Anoa juga mendapat kehormatan dengan dijadikan merek produk PT. Pindad, yaitu Panser Anoa. Hal ini karena anoa dianggap satwa yang sangat lincah dan tangguh bergerak di belantara, pemberani, juga pantang menyerah”
Masa reproduksi anoa dengan jumlah kelahiran satu anak setiap kelahiran, dengan masa kehamilan 275 hari. Di habitat aslinya, anoa mencapai dewasa kelamin dan siap kawin baru pada usia di atas 3 tahun, bahkan sekitar 5 tahun untuk yang jantan.
Haris mengungkapkan bahwa rendahnya masa reproduksi, menyebabkan pada dasarnya populasi anoa di alam juga tidak banyak. Sayangnya, perburuan liar pada anoa masih tinggi. Anoa diburu untuk dikonsumsi dagingnya, sedangkan tanduk menjadi trophy.
“Anoa diburu atau ditangkap minimal 280 ekor per tahun, yang menggambarkan ancaman serius terhadap pelestarian populasi anoa. Perburuan ini oleh berbagai kalangan tanpa memandang suku atau agama. Selain perburuan, anoa terancam karena degradasi habitat karena kehidupan anoa sangat bergantung pada hutan primer, sehingga hilangnya hutan primer menyebabkan menurunnya populasi anoa,” tambah Haris.
Untuk melindungi anoa dan satwa lain di dalam kawasa hutan di Kabupaten Luwu Utara maka perlu adanya usaha dalam perlindungan yang dilakukan oleh multi pihak.
Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, Rustan mengatakan, warisan budaya yang ada di masyarakat merepresentasikan kemampuan manajemen lingkungan manusia atau masyarakat di masa lalu yang hidup, kemudian diyakini, dan dijalankan di dalam masyarakat masa kini.
“Masyarakat masa kini mempertahankan budaya masa lalu dengan mengekspresikan nilai luhur, filosofi, dan kearifan budaya yang diwarisi melalui perilaku tertentu untuk kemaslahatan masyarakat dan lingkungan alamnya di masa kini, misalnya perilaku mereka melindungi sumberdaya alamnya,” terang Rustan.
Rustan menambahkan bahwa banyak tradisi dalam masyarakat yang membawa pesan konservatif untuk upaya perlindungan fauna dan flora, misalnya di daerah Bugis ada aturan tentang hari dan waktu tertentu tidak boleh melakukan perburuan atau penebangan. Di Toraja, ada aturan adat tenta.(*)



Tinggalkan Balasan