Cuaca Ekstrem dan Lereng Curam, SAR ATR Berpacu di Pegunungan Bulusaraung
PANGKEP, TEKAPE.co – Operasi pencarian dan penyelamatan terhadap 10 penumpang pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, kembali dilanjutkan Senin (19/1/2026) pagi.
Medan terjal dan cuaca ekstrem masih menjadi tantangan utama bagi tim gabungan SAR.
Sehari sebelumnya, Minggu sore, operasi dihentikan sementara menjelang waktu salat Magrib, sekira pukul 18.00 Wita, setelah tim menemukan satu jenazah korban di lereng dengan ketinggian sekitar 1.210 meter di atas permukaan laut.
BACA JUGA: Dua Keluarga Karyawan PT Vale Tercatat dalam Manifes ATR yang Hilang Kontak
Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan pegunungan Bulusaraung pada ketinggian sekitar 1.353 mdpl.
Komandan Korem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan mengatakan, operasi hari ketiga akan difokuskan pada dua misi utama.
Pertama, misi kemanusiaan berupa pencarian dan evakuasi seluruh korban yang masih belum ditemukan.
Kedua, misi investigasi dan ilmiah, yakni upaya menemukan kotak hitam pesawat untuk keperluan penyelidikan penyebab kecelakaan.
Dalam perkembangan lain, sekira pukul 15.00 Wita, Search and Rescue Unit (SRU) 3 menemukan perangkat Emergency Location Transmitter (ELT) pesawat. Awalnya, temuan tersebut diduga sebagai kotak hitam.
“Setelah diperiksa, itu bukan black box, melainkan alat pemancar lokasi pesawat,” ujar Andre di posko Bulusaraung.
Penemuan ini sekaligus meluruskan informasi yang sempat beredar di posko operasi nasional di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Operasi SAR melibatkan 393 personel gabungan dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan warga setempat.
Hingga Minggu sore, tim telah menemukan ratusan serpihan badan pesawat serta barang-barang bagasi milik 10 orang yang berada di dalam pesawat.
Di antara temuan tersebut terdapat potongan dokumen survei milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Sebanyak empat SRU dikerahkan, masing-masing beranggotakan antara 90 hingga 106 personel.
Setelah operasi dihentikan sementara, para personel beristirahat di sekitar 60 rumah warga, masjid, fasilitas pendidikan, serta kantor pemerintahan desa di sekitar kawasan operasi.
Tim dijadwalkan kembali bergerak saat matahari terbit, dengan harapan cuaca lebih bersahabat dan jalur pendakian memungkinkan proses evakuasi serta pencarian kotak hitam dilakukan lebih maksimal.(*)



Tinggalkan Balasan