Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Ritual yang Meredup, Nilai yang Seharusnya Tetap Menyala

Dr. Sehe, M.Pd. (ist)

Oleh: Dr. Sehe, M.Pd.
(Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Cokroaminoto Palopo)

Di pesisir Kota Palopo, angin masih menyisakan gema Maccera’ Tasi’—ritual tahunan masyarakat pesisir untuk menyucikan laut dan mensyukuri rezeki Tuhan.

Namun gema itu kini kian meredup. Tabuhan gendang di atas perahu nelayan dan lantunan doa yang dulu menautkan manusia dengan laut perlahan tenggelam di tengah derasnya modernisasi.

Padahal bagi masyarakat Palopo, Maccera’ Tasi’ bukan sekadar seremoni adat, melainkan ia adalah penanda keseimbangan antara manusia, alam dan Sang Khalik. Di dalamnya bersemayam nilai solidaritas, gotong royong, serta kesadaran ekologis yang menempatkan laut bukan hanya sebagai sumber nafkah, tetapi sebagai ruang hidup yang wajib dihormati.

Perlu diingat bahwa ritual tradisional merupakan penyangga harmoni sosial dan spiritual. Bila ia pudar, maka retak pula sebagian jati diri kolektif masyarakat yang selama ini dipupuk oleh tradisi.

Kini tidak sedikit masyarakat yang menilai ritual ini sudah tidak relevan, bahkan ada yang memandangnya berseberangan dengan ajaran agama. Padahal, esensi Maccera’ Tasi’ justru berakar pada rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan—dua nilai universal yang tetap penting dalam konteks apa pun.

Prosesi ritual yang melibatkan nelayan, ibu-ibu pesisir, hingga para pemuda menunjukkan betapa kuatnya solidaritas lintas generasi yang dibangun tradisi ini. Energi sosial semacam itu kini semakin langka di tengah kehidupan modern yang makin individualistik.

Dari sisi ekologis, Maccera’ Tasi menegaskan pentingnya relasi harmonis antara manusia dan alam. Dalam setiap prosesi, laut tidak diperlakukan sekadar sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai ruang hidup yang mesti dijaga dan dihormati.

Nilai ini menempatkan alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia. Di tengah krisis lingkungan yang melanda dunia, kesadaran ekologis yang tumbuh dari tradisi ini justru terasa semakin relevan dan mendesak untuk dihidupkan kembali.

Memang, adegan ketika Datu Luwu, Puang Ade, dan Opu Ande Guru Attoriolong saling berbagi lise rakki kini tak lagi menghiasi upacara. Namun gema maknanya belum padam sepenuhnya. Ia tetap hidup dalam ingatan masyarakat Luwu sebagai pesan tentang kebersamaan, hormat, dan kesadaran akan hubungan manusia dengan leluhur dan alam.

Karena itu, hal yang mendesak untuk dilakukan adalah merevitalisasi nilai-nilai yang dikandungnya meskipun tidak menghidupkan kembali upacaranya. Oleh karena itu, Pemerintah daerah, tokoh adat, dan lembaga pendidikan perlu membangun kolaborasi yang lebih serius untuk menempatkan Maccera’ Tasi’ sebagai warisan budaya takbenda yang hidup—bukan hanya tertulis di dokumen.

Revitalisasi ini dapat diwujudkan melalui festival bahari yang edukatif, program pembelajaran ekologi berbasis kearifan lokal, hingga kurikulum budaya yang melibatkan generasi muda.

Hilangnya tradisi bukan hanya hilangnya prosesi, melainkan pudarnya memori kolektif yang selama ini menjadi kompas moral masyarakat pesisir. Maccera’ Tasi’ perlu dipandang bukan sebagai masa lalu, melainkan sebagai panduan etis yang masih relevan—tentang syukur, kebersamaan, dan tanggung jawab ekologis.

Ritual mungkin meredup, tetapi nilai yang dikandungnya harus tetap menyala. Sebab ombak di laut Palopo masih membawa pesan yang sama: manusia hanya dapat hidup harmonis bila ia menjaga alam, menghormati sesama, dan tidak melupakan akar budayanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini