Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Keranda Protes Gubernur Sulsel, Aksi DOB Luwu Raya Lumpuhkan Jalan Nasional

Demonstran membawa keranda mayat bertuliskan “Gubernur Sulawesi Selatan” saat aksi unjuk rasa menuntut pembentukan Daerah Otonomi Baru Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah di Desa Batu Lappa, perbatasan Kabupaten Luwu–Wajo, Senin sore, sebagai simbol kekecewaan terhadap pemerintah daerah. (ist)

LUWU, TEKAPE.co – Gelombang tuntutan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah kembali memanas di Kabupaten Luwu.

Puluhan massa aksi turun ke jalan dan memblokade jalur utama Makassar–Palopo di Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompong Selatan, tepat di gapura perbatasan Kabupaten Luwu dan Wajo, Minggu (8/2/2026) sore.

Aksi yang digerakkan Aliansi Perjuangan Masyarakat Tana Luwu (Permata) itu melumpuhkan arus lalu lintas selama lebih dari dua jam.

BACA JUGA: Desak Provinsi Luwu Raya, Massa Blokade Jalan Trans Sulawesi di Luwu Utara

Jalan poros nasional tersebut ditutup total sejak pukul 16.08 hingga 18.22 Wita.

Kendaraan dari dua arah terpaksa mengantre panjang tanpa kepastian.

Lokasi aksi berada sekitar 36 kilometer di selatan Kantor Bupati Luwu di Belopa.

BACA JUGA: Sunaryo Mande Desak Pemerintah Pusat Segera Wujudkan Kabupaten Luwu Tengah

Massa memilih titik strategis itu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pembiaran aspirasi masyarakat Tana Luwu.

Spanduk putih bertuliskan “Siap Berjuang Bersama untuk Provinsi Luwu Raya. Luwu Raya Harga Mati” dibentangkan di atas gapura perbatasan kabupaten.

Mobil komando diparkir melintang di badan jalan dan dijadikan panggung orasi.

Dari atas kendaraan itulah luapan kemarahan dan kekecewaan disuarakan secara terbuka.

Dalam orasinya, salah satu demonstran, Furqan, menyebut perjuangan pemekaran Kabupaten Luwu Tengah telah memakan korban jiwa.

Ia mengingatkan kembali tragedi Walmas Berdarah pada 2013 yang menewaskan seorang pejuang pemekaran bernama Candra.

Furqan membuka orasinya dengan mengajak massa menundukkan kepala dan mendoakan mendiang Candra.

Ia menyebut kematian itu sebagai bukti bahwa tuntutan DOB bukan sekadar wacana, melainkan perjuangan panjang yang dibayar mahal.

Massa juga membawa keranda mayat bertuliskan “Gubernur Sulawesi Selatan” sebagai simbol protes.

Furqan menegaskan, keranda tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman yang dinilai mengabaikan kepentingan masyarakat Tana Luwu.

“Keranda ini simbol. Simbol bahwa Gubernur Sulawesi Selatan tidak punya pikiran untuk Tana Luwu,” ujar Furqan dari atas mobil komando.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini