Kemarau Tekan Produksi Jagung Petani di Toraja Utara, Hanya 1,2 Ton per Hektare
BUNTAO, TEKAPE.co – Kemarau panjang mulai memukul produksi jagung petani di Kecamatan Buntao, Kabupaten Toraja Utara. Hasil panen yang biasanya mencapai sekitar 2 ton per hektare, kini anjlok menjadi hanya 1,2 ton per hektare.
Kondisi itu terlihat dalam panen raya jagung yang digelar Kelompok Tani Pa’ Kampa di Dusun Garotin, Lembang Misa’ Ba’bana, Kecamatan Buntao, Senin (7/9/2026).
Panen dilakukan di lahan seluas sekitar satu hektare milik Gaga Baek Salurante Danduru. Meski tanaman berhasil dipanen, hasilnya jauh lebih rendah dibanding produksi normal petani.
“Biasanya bisa sampai 2 ton per hektare, sekarang karena kemarau panjang hasilnya hanya sekitar 1,2 ton,” ungkap Gaga Baek Salurante.
Di tengah penurunan produksi tersebut, Polsek Sanggalangi tetap memberikan pendampingan kepada petani.
Kapolsek Sanggalangi Iptu Daniel, SE SH, mengatakan pihaknya mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, termasuk melalui sektor pertanian dan penyediaan pakan ternak.
Bhabinkamtibmas Polsek Sanggalangi Bripka Muhammad Jufri Lisaw mengatakan pendampingan dilakukan sejak proses penanaman hingga panen.
Menurutnya, kehadiran polisi di tengah petani bukan hanya untuk mendukung proses produksi, tetapi juga memastikan persoalan yang dihadapi petani dapat dikomunikasikan.
Dalam kesempatan itu, pihak kepolisian bersama Kepala Lembang turut membahas distribusi hasil panen serta ketersediaan pupuk untuk musim tanam berikutnya.
Jufri juga mengingatkan masyarakat agar menjaga keamanan hasil panen dan tetap menjaga kerukunan setelah masa panen.
Di sisi lain, kondisi kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api.
Panen tersebut turut dihadiri Kepala Lembang Misa’ Ba’bana Gaga Baek Salurante Danduru, penyuluh pertanian Yohanis Tangke Batu, serta anggota Kelompok Tani Pa’ Kampa.
Diketahui sejak awal penanaman mulai dari modal bibit jagung, pestisida dan kebutuhan lainnya, estimasi biaya hanya Rp2,5 juta yang dimodali secara pribadi oleh Bripka Jufri Lisaw.
(Erlin)





Tinggalkan Balasan