Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Desak Provinsi Luwu Raya, Massa Blokade Jalan Trans Sulawesi di Luwu Utara

Seorang orator menyampaikan orasi dalam aksi Presidium Gerakan Perjuangan Provinsi Luwu Raya (GPPLR) di Jembatan Sungai Bunga Didi, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (8/2/2026), dengan menyoroti ketimpangan pembangunan yang dinilai masih dirasakan masyarakat di wilayah Luwu Raya. (ist)

LUWU UTARA, TEKAPE.co – Presidium Gerakan Perjuangan Provinsi Luwu Raya (GPPLR) kembali menggelar aksi unjuk rasa menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya.

Aksi tersebut berlangsung di Jembatan Sungai Bunga Didi, Jalan Trans Sulawesi, Desa Bunga Didi, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (8/2/2026).

Dalam aksi itu, massa membakar ban di dua sisi jembatan.

BACA JUGA: Update: Jembatan Gate 1 Sorowako Sudah Bisa Dilalui Sepeda Motor, PT Vale Atur Pembatasan

Mereka juga memarkir dua unit mobil pikap yang dilengkapi pengeras suara dan difungsikan sebagai panggung orasi.

Para peserta aksi menyampaikan aspirasi secara bergantian.

Sejumlah perempuan yang tergabung dalam aliansi aksi terlihat membagikan selebaran kepada pengendara yang melintas di jalur tersebut.

Aksi blokade jalan utama menyebabkan antrean kendaraan mengular. Massa menerapkan sistem buka-tutup arus lalu lintas.

“Dua jam jalan dibuka, dua jam berikutnya ditutup,” kata Koordinator Lapangan aksi, Muh Yusuf, di lokasi.

Meski melakukan penutupan jalan, massa tetap memberi kelonggaran bagi kendaraan roda dua serta kendaraan darurat, seperti ambulans, mobil pemadam kebakaran, dan kendaraan pengangkut bahan bakar minyak.

Yusuf menyebutkan aksi tersebut mendapat dukungan dari warga sekitar. Menurut dia, masyarakat turut memahami tuntutan yang disuarakan massa.

Dalam orasinya, salah satu orator menyinggung ketimpangan pembangunan yang dinilai masih dirasakan masyarakat di wilayah Luwu Raya.

Ia menyebutkan masih adanya daerah yang kesulitan mengakses infrastruktur dasar.

“Keluarga kita di Seko dan Rampi masih kesulitan menjangkau ibu kota. Di Siteba, listrik belum sepenuhnya dinikmati warga. Di mana keadilan pembangunan?” kata orator tersebut melalui pengeras suara.

Ia juga menyoroti besarnya kontribusi sumber daya alam Luwu Raya terhadap negara.

Menurutnya, eksploitasi sumber daya alam belum sebanding dengan pemerataan pembangunan yang dirasakan masyarakat setempat.

“Banyak kekayaan alam di Luwu Raya yang diambil untuk membiayai negara. Tapi keinginan Wija to Luwu untuk memiliki provinsi sendiri belum juga terwujud,” ujarnya.

Massa menegaskan perjuangan pemekaran Provinsi Luwu Raya akan terus dilanjutkan hingga tuntutan mereka dipenuhi.

“Perjuangan ini tidak akan berhenti sampai cita-cita itu tercapai,” kata orator menutup aksinya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini