Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Air Sungai Suso Keruh sudah Dua Bulan, AMASS Kecam Dugaan Perusakan Lingkungan, PDAM dan Petani Ikut Terdampak

Tampak Kondisi Air Sungai Suso berwarna kecoklatan atau Keruh. Gambar diambil pada Selasa, 2 Desember 2025, di area Intake PDAM Luwu. (ist)

LUWU, TEKAPE.co – Air Sungai Suso terus berubah keruh selama dua bulan terakhir. Aliansi Masyarakat Aliran Sungai Suso (AMASS) menilai kondisi tersebut sebagai indikasi kerusakan lingkungan dan mengecam aktivitas yang diduga menjadi pemicunya.

“Sudah dua bulan lebih air Sungai Suso warnanya menjadi kemerahan. Dulu air ini sangat jernih, tapi setelah ada aktivitas pertambangan air Sungai Suso tidak lagi menjadi jernih. Air yang menjadi pasokan untuk PDAM kini sudah tidak layak lagi untuk digunakan,” ujar Yudhy, perwakilan AMASS, kepada media, Selasa, 2 Desember 2025.

AMASS menyebut keruhnya sungai sebagai bentuk pencemaran yang harus segera ditindaklanjuti. “AMASS mengecam tindakan yang merusak dan mencemari lingkungan, dan akan berjanji untuk melakukan advokasi terkait air Sungai Suso yang menjadi keruh,” kata Yudhy.

Direktur PDAM Tirta Latimojong, Kabupaten Luwu, Mardi Saleh, Beserta Jajarannya Saat Melakukan Peninjauan Langsung ke Intake PDAM di Aliran Sungai Suso, nampak air sungai keruh. Selasa, 2 Desember 2025, sore. (ist)

Sementara itu, Kondisi air yang memburuk turut berdampak pada pelayanan PDAM Tirta Latimojong. Warga mengeluhkan air yang mengalir ke rumah mereka ikut berubah keruh. Direktur PDAM Luwu, Mardi Saleh, bersama jajarannya telah meninjau langsung kondisi di Intake PDAM di aliran Sungai Suso.

“Kondisi air sampai sekarang sudah tidak pernah lagi jernih. Ini yang membuat kami sangat kewalahan mengolah air jadi bersih karena sudah lumpur yang datang, sehingga pompa yang selama ini kita gunakan gagal isap karena di strainer pompa sudah tertutup lumpur. Biaya bahan kimia yang digunakan sekarang bertambah, karena biasanya 5 ton kita bisa pakai 3 bulan, sekarang 1 bulan lebih. Kalau kondisi air lumpur sudah tidak mampu mengolah menjernihkan karena ada batas ambang, sehingga tidak ada produksi. Pompa dimatikan tadi sore. Saya rencana mau bendung, tiba-tiba datang banjir, alat excavator tidak bisa kerja, sebenarnya kondisi banjir,” kata Mardi.

Menurut dia, dampak air keruh meluas hingga sektor pertanian. “Dampak air keruh bukan hanya terdampak ke PDAM tapi petani juga. Mereka mengeluhkan kondisi karena air yang digunakan petani lumpur yang masuk ke sawah, kalau kering mengeras katanya,” ujar Mardi, mengutip pernyataan seorang petani.

Mengantisipasi situasi yang semakin sulit, PDAM Luwu berharap intake dapat segera dipindahkan. “Kami berharap intake segera dipindahkan ke sungai (Salu) Kanna, yang berbeda aliran dengan Sungai Suso ini. Di wilayah Salu Kanna kita bisa ambil air 200 sampai 250 liter per detik,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, perubahan warna air Sungai Suso diduga dipicu pembangunan spillway di wilayah Tuara yang merupakan bagian dari kegiatan PT Masmindo Dwi Area.

Redaksi telah berupaya meminta konfirmasi PT Masmindo Dwi Area mengenai dugaan tersebut, namun hingga berita ini diterbitkan, perusahaan belum memberikan tanggapan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini