Jembatan Rapuh, Nyawa Melayang: Warga Pajalesang Tuding Pemkot Palopo Abai
PALOPO, TEKAPE.co – Kematian Marwan (62) di Jembatan Gantung Pajalesang bukan sekadar kecelakaan.
Bagi warga setempat, peristiwa itu adalah akumulasi panjang dari pembiaran dan kelalaian Pemerintah Kota Palopo terhadap fasilitas publik yang membahayakan nyawa.
Marwan tewas setelah terjatuh dari jembatan gantung setinggi sekitar enam meter di Kelurahan Pajalesang, Kecamatan Wara, Kota Palopo, Selasa (10/2/2026).
BACA JUGA: Profil Wali Kota Palopo Naili dan Sikapnya atas Unjuk Rasa Pemekaran Provinsi Luwu Raya
Kayu alas jembatan yang ia pijak patah. Ia meninggal di lokasi kejadian.
“Pertanyaannya sederhana: siapa yang bertanggung jawab?” kata AR, warga Pajalesang, kepada wartawan. Nada suaranya meninggi. Emosinya tak tertahan.
Menurut AR, Pemkot Palopo kerap hadir hanya sebagai penonton di tengah penderitaan warganya.
BACA JUGA: Bupati Luwu: MTQ Bukan Sekadar Lomba, tapi Media Syiar dan Pendidikan Umat
Ia menilai, kematian Marwan adalah bukti nyata ketidakhadiran negara di tingkat paling dasar: menjamin keselamatan warga.
“Korban hanya ingin mengambil beras di penggilingan bersama istrinya. Tapi jembatan yang rapuh itu merenggut nyawanya,” ujarnya.
AR menegaskan, persoalan jembatan gantung Pajalesang bukan hal baru.
Ia menyebut, pemerintah kelurahan telah berulang kali menyurati instansi terkait dan mengusulkan perbaikan jembatan tersebut hampir setiap tahun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
“Surat selalu dikirim. Usulan selalu disampaikan. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada tindakan nyata,” kata dia.
Bagi AR, tragedi ini semestinya menjadi tamparan keras bagi Pemkot Palopo. Namun ia ragu pemerintah benar-benar akan belajar dari kematian warganya.
“Kalau kematian Marwan saja belum cukup menyadarkan mereka, entah tragedi apa lagi yang harus terjadi,” ujarnya.
Kekecewaan warga juga diarahkan pada kunjungan Wali Kota Palopo, Naili, bersama Dinas Pekerjaan Umum ke lokasi jembatan pada September 2025 lalu.
Kunjungan itu kini dipertanyakan hasilnya.
“Ibu wali kota sudah datang, Dinas PU ikut. Kondisi jembatan ini rusak parah, kasat mata. Tapi setelah itu apa? Tidak ada perbaikan,” kata AR.




Tinggalkan Balasan