Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Kilau Emas di Bumi Pongtiku: Jejak Cerita, Isu Tambang, dan Mitos Cahaya Malam di Toraja Utara

Ilustrasi dulang emas. (ai/tekape.co)

DI BALIK sejuknya kabut pegunungan Toraja Utara, terselip cerita lama yang kembali mengilap. Bukan tentang rumah tongkonan atau ritual adat, melainkan soal kilau emas yang konon tersembunyi di perut bumi.

Saat harga emas terus meroket, kisah-kisah lama itu kembali dibicarakan, dari lereng Rantebua hingga Buntu Pepasan, dari pasir hitam hingga cahaya berkilau di malam hari.

Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, sejumlah wilayah di Kabupaten Toraja Utara diduga memiliki potensi kandungan mineral emas.

Lokasinya tersebar di beberapa lembang dan kelurahan di Kecamatan Rantebua, Kecamatan Sadan, hingga Kecamatan Buntu Pepasan.

Meski belum ada kajian ilmiah terbuka, cerita dari mulut ke mulut telah lama hidup di tengah masyarakat.

Bagi penambang manual atau pendulang solo, wilayah-wilayah tersebut kerap disebut-sebut layak diuji. Namun bukan sekadar mendulang biasa.

Material yang diduga mengandung emas itu disebut-sebut bisa mencapai ratusan kilogram bahkan ton, jika dilakukan eksplorasi serius dan terukur.

Salah satu kisah paling sering diperbincangkan datang dari Kelurahan Bokin, Kecamatan Rantebua. Tepatnya di area perusahaan perkebunan kopi PT Tuarco Jaya.

Warga setempat menyebut, pada waktu-waktu tertentu, lokasi itu kerap memunculkan cahaya berkilau di malam hari, yang dipercaya sebagai pantulan emas di dalam tanah.

“Cerita orang-orang tua dulu, emasnya sebesar kerbau,” tutur seorang warga sambil tersenyum setengah ragu, setengah yakin.

Udin, warga setempat, mengaku sekitar 10 tahun lalu pernah mencoba mengecek material tanah di kawasan tersebut bersama sahabatnya, Anto Sapa, yang dikenal mahir mendulang emas. Dengan alat tradisional seadanya, mereka mencoba menguji tanah di sekitar lokasi.

“Memang ada ciri-cirinya. Salah satunya muncul pasir hitam. Itu biasanya jadi tanda ada emas di bawahnya,” kata Udin.

Menurutnya, jika dilakukan penggalian hingga kedalaman lebih dari dua meter, hasil dulangan bisa mencapai satu sekaca atau lebih.

Apalagi, sahabatnya itu merupakan mantan pendulang emas dari Bombana, Sulawesi Tenggara, yang sudah paham betul karakter material tambang.

Namun, niat itu urung dilanjutkan. Lokasi tersebut telah diklaim sebagai kawasan pinjam pakai oleh pihak perusahaan.

Selain berpotensi melanggar hukum, aktivitas penggalian dikhawatirkan dapat merusak sumber mata air yang selama ini menjadi penopang persawahan dan kebutuhan air minum warga.

Tak hanya cerita lisan. Dari kisah rakyat yang beredar, konon pernah ada alat pengeboran yang sempat tiba di Pelabuhan Makassar.

Namun pengirimannya ke Toraja Utara dibatalkan lantaran menimbulkan kecurigaan pihak Bea Cukai. Izin perusahaan tercatat sebagai perkebunan kopi, sementara alat yang datang justru alat pertambangan.

Benarkah emas itu ada? Ataukah hanya mitos yang kembali hidup di tengah euforia harga logam mulia?

Hingga kini, cerita kilau emas Toraja Utara masih menggantung, antara potensi, legenda, dan kehati-hatian menjaga alam.

Laporan: Erlinuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini